Sel26102021

Last updateSen, 25 Okt 2021 11pm

BJB

Aneka

Pendidikan Islam Yang Utama

Ummu Nadiatul Haq

Oleh: Ummu Nadiatul Haq (Member Akademi Menulis Kreatif)

Kuningan Terkini - Bupati Kuningan, H. Acep Purnama, SH, MH saat Rembuk Daerah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2021, Rabu, 8 September 2021 menyampaikan bahwa "Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi.

Artinya meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia, yang dengan sendirinya meminta SDM berkualitas dihasilkan oleh lembaga yang dikelola secara profesional sehingga membuahkan hasil yang unggulan untuk membangun komitmen bersama memajukan Kabupaten Kuningan.”

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Drs. H, Uca Somantri, M.Si menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk menentukan arah, kebijakan dan strategi manajemen pembangunan pendidikan guna terwujudnya Kabupaten Pendidikan di Kabupaten Kuningan. “Semoga memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan pendidikan yang dihadapi menjadi lebih terukur dan terencana."(Kuninganterkini.com, 8/9/2021)

Memiliki target menjadi Kabupaten pendidikan yang mampu mencapai apa yang diinginkan, tentu diharapkan bagi masyarakat. Daerah akan memiliki kemajuan dari pembangunan pendidikan ini. Sumber daya manusia berkualitas menjadi semakin banyak dan bisa menjadi generasi cemerlang penerus pemangku jabatan di masa mendatang. Hanya saja, apakah mudah mewujudkan ini pada sistem demokrasi kapitalisme yang sudah bisa terindera dari fakta-fakta yang terjadi pada dunia pendidikan?

Masih segar dalam ingatan, tahun 2019 lalu ketika seorang mahasiswa S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Aziz membuat heboh dunia maya karena disertasinya yang kontroversial. Judulnya "Konsep al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital", artinya Nonmarital."

Artinya ia menginginkan zina itu halal. Pemikiran rusak ini diambil dari cendekiawan muslim asal Suriah Muhammad Syahrur. Tentu ini berbahaya bagi generasi muda jika akidahnya belum kokoh. Gayatri Muntari, seorang muslimah sekuler anak sastrawan Indonesia, Prof.Dr.Abdul Hadi WM, dosen sekaligus sastrawan, budayawan Indonesia, yang dikenal pluralis. Dia menuding film Nussa Rara sebagai film radikal yang dianggap tidak layak tayang, karena mengandung unsur sublimial karena mendoktrin anak kecil untuk berhijab.

Ini baru dua contoh cendekiawan muslim yang sekuler, korban pemikiran sekuler hasil pendidikan di sistem sekarang ini. Sehebat apapun ranah pendidikan, kalau asasnya memisahkan agama dari kehidupan, tentu akan jauh dari peradaban Islam yang agung, yang berasal dari Sang Pencipta manusia dan alam semesta ini.

Selain itu, buah dari pendidikan dalam sistem sekarang yaitu liberalisme, hedonisme, komersialisasi, dan pragmatisme. Kebebasan berpikir, bertindak dan berekspresi membuat anak didik merasa dilindungi untuk melakukan apapun yang dikehendakinya. Tantangan modernisasi yang serba digital dan menjadikan ketergantungan pada mesin cenderung menjadi generasi instan.

Lembaga pendidikan yang berubah menjadi subjek bisnis, wajar standarisasinya bukan lagi pada kualitas berpikir tetapi pada kepemilikan materi, juga output pendidikan yang pragmatis. Ribuan sarjana dilahirkan setiap tahunnya tetapi tidak berdampak signifikan pada pembenahan kehidupan bangsa yang penuh masalah.

Dalam Islam, asas pendidikan di setiap jenjang memiliki target khusus yang semua bermuara pada pembekalan dengan tsaqofah Islam yang kuat dan outputnya membentuk pribadi-pribadi yang memiliki kepribadian Islam yang khas. Memiliki pola pikir dan pola sikap yang berasal dari akidah Islam. Sehingga generasi hasil pendidikan ini akan tetap terikat dengan hukum syarak, bertingkah laku, baik dan buruk sesuai kaidah syarak, juga akan memimpin dan mengembangkan Islam ke penjuru dunia.

Ada tiga langkah metode pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam. Pertama, menanamkan akidah Islam dengan metode yang menggugah akal, menggentarkan jiwa dan menyentuh perasaan. Kedua, mendorong untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berpikir dan perilakunya di atas akidah dan syariah Islam yang telah menghunjam kuat dalam hatinya.

Ketiga, mengembangkan kepribadian dengan cara sungguh-sungguh mengisi pemikiran dengan tsaqofah islamiyyah dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupannya dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt. (Menggagas Pendidikan Islami, M. Ismail Yusanto, dkk) Hanya dengan pendidikan Islam, output negara akan menemukan masa depan gemilang dan mampu memajukan negara yang sekarang sedang tidak baik-baik saja.***

Wallahua'lam bishshawab.

Add comment


Security code
Refresh