Nyimas Gandasari
(Asal Mula Nama Kedungarum)
Oleh: Abun Burhanudin
Nyimas Gandasari menyukai keduanya. Ia pun bingung untuk memilih salah satu diantara mereka. Jujur saja, aku pun menyukai kalian berdua. Tapi tak mungkin kalau aku harus memilih kalian semuanya sekaligus.
Terus bagaimana, Nyai ?
Begini saja, bagaimana kalau kalian berdua mengadu kekuatan. Siapa yang terkuat diantara kalian, dialah yang pantas jadi pilihanku. Baiklah, kami setuju usulan Nyai.
Sebenarnya kedua lelaki itu adalah sahabat sejati. Seumur hidupnya mereka belum pernah bersaing dalam hal apapun. Mereka selalu bekerja sama dan saling menyayangi. Tapi kali ini, mereka terpaksa harus mengadu kekuatan untuk mendapatkan Nyimas Gandasari.
Rayi, seumur hidup kita belum pernah bersaing. Namun kali ini kita terpaksa harsu mengadu kekuatan, karena kita sama-sama menginginkan Nyimas Gandasari.
Baiklah Kakang. Kita buktikan siapa yang pantas jadi pilihn Nyimas Gandasari. Akhirnya, Waim Asmadi dan kakak seperguruannya, Ki Nata Kadil, bertarung mengadu kekuatan. Mulanya pertarungan itu berjalan seimbang. Tetapi Akhirnya Waim Asmadi dapat mengalahkan Nata Kadil.
Dengan itu berarti Waim Asmadilah yang berhak mendapatkan Nyimas Gandasari. Maafkan aku, kakang. Akulah yang berhak memiliki Nyimas Gandasari. Nggak apa-apa rayi. Memang rayi lah yang pantas mendapatkan Nyimas Gandasari. Itulah yang keluar dari mulut Nata Kadil, dengan jujur ia mengaku kalah.
Tetapi di dalam hatinya ia berkata lain. Nata Kadil menyimpan rasa dendam kepada Waim Asmadi, bahkan ia berniat untuk menghancurkan kebahagiaan Waim Asmadi dan Nyimas Gandasari.
Singkat cerita, Nyimas Gandasari kemudian menikah dengan Waim Asmadi. Hubungan mereka direstui oleh ki Buyut Sinden. Setahun kemudian Nyimas Gandasari melahirkan anak laki-laki. Mereka pun nampak sangat bahagia. Mendengar Waim Asmadi sangat bahagia dengan Nyimas Gandasari, muncul kembali rasa iri dan dendam di hati Nata Kadil. Ia kembali beniat untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.
Suatu hari, Nyimas Gandasari sedang pergi menyuci. Bayinya yang sedang tidur ditinggalkan di dalam gubuknya sendirian. Nata Kadil berniat untuk membunuh bayi itu, ia kemudian masuk menyelinap ke dalam gubuk. Nata Kadil kemudian mengeluarkan pisau hendak menikam bayi nya Nyimas Gandasri. Tiba-tiba-tiba munculah si Mulus, Kuda kesayangan Nyimas Gandasari itu langsung menyerang Nata Kadil dan berhasil menggigit dadanya. Saat itu juga Nata Kadil roboh tak bernyawa.
Tak lama kemudian, Nyimas Gandasari masuk ke dalam gubuknya. Ia kaget karena bayinya telah tidak ada di tempat tidurnya, lebih kaget lagi saat melihat di bawah lantai banyak bercerean darah. Gandasari nampak sock sekali dan mengira telah ada orang yang mencelakai bayinya. Gandasari keluar mencari-cari bayinya.
Tiba-tiba ia melihat si Mulus yang mulutnya berlumuran darah. Gandasari marah, dan menuduh kalau si Muluslah yang telah membunuh bayi nya. Saking marahnya, Gandasari langsung menyerang kuda itu, hingga kuda itu pun mati seketika. Tiba-tiba terdengar tangisan bayi di samping gubuknya. Gandasari segera menhampiri tempat itu. Ternyata bayinya masih hidup dan tak satupun ada luka di tubunnya.
Gandasari kaget saat di samping bayinya tenyata ada tubuh Nata Kadil berlumuran darah terbujur kaku sambil memegang pisau. Melihat itu Gandasari menyesal, karena sebenarnya yang berniat mencelakai bayinya adalah Nata Kadil bukan si Mulus. Maafkan aku Mulus, aku bersalah. aku telah salah sangka padamu hiangga aku membunuh mu.
Gandasari kemudian menguburkan si Mulus. Ajaib baru saja selesai si Mulus dikuburkan, keluarlah mata air di tempat itu. Lebih anehnya lagi air itu mengeluarkan bau yang sangat wangi. Hal itu menandakan kalau si Mulus tidak berdosa. Gandasari semakin menyesal.
Sejak itu banyaklah penduduk yang datang dan bermukim di sekitar mata air yang wangi itu. Hingga suatu ketika rombongan Prabu Langlang Buana lewat di tempat itu. Langlang Buana kaget karena mencium bau wangi yang luar biasa. Ia pun kemudian mendatangi tempat datangnya bau wangi itu. Alangkah kagetnya ia, karena bau wangi itu keluar dari sebuah mata air. Prabu Langlang Buana kemudian mandi.
Setelah itu, ia pun memandikan kuda kesayangannya si Windu. Prabu Langlang Buana kemudian sering mandi dan memandikan kudanya di tempat itu. Suatu hari setelah mandi dan memandikan kudanya, Prabu Langlang Buana memanggil ki Buyut Sinden, ia kemudian berkata kepada ki Buyut Sinden. Buyut Sinden, sejak saat ini aku beri nama tempat ini, Kedungarum, artinya mata air yang harum.
Sejak saat itu sampai sekarang nama tempat itu dikenal dengan nama Kedungarum. Konon, Nyimas Gandasari yang menyesal atas perbuatannya tidak mau meninggalkan mata air itu, dan setelah meninggal ia berpesan untuk dikuburkan di sekitar mata air itu. Hingga saat ini banyak orang percaya kalau Nyimas Gandasari masih tetap melindungi mata air tersebut.
Tamat