Aneka

Teater Sado, Regenerasi Tanpa Henti

Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita

Kuningan Terkini - Sederet pertunjukan fenomenal seperti Bimbang Dewi Rara, Dialog Rama-Rahwana, Dedes (Terperdaya atau Memperdaya Menjadi Sah-Sah Saja), Ada Mayat Kentut, Sandiwara Orang-Orang Negeri Dangdut pernah digarap oleh kelompok teater yang bermarkas di Jalan Otista Sawahwaru No. 888 Kuningan ini. Teater yang mempunyai slogan ‘bermain kreatif’ ini terus berkiprah di wilayah kesenian tanpa henti. Ratusan anggota dibina, diasah dan dilatih ilmu dan keterampilannya di kelompok ini. Kelompok ini tidak lain bernama teATeR SADO.

“Regenerasi harus terus berjalan dalam proses kesenian di teATeR SADO, ini sesuai dengan filosofi bahwa kelompok kami adalah teater latihan yang digarap secara disiplin dan keakraban keluarga yang kental,” kata-kata itulah yang keluar dari Aan Sugiantomas, pendiri, teATeR SADO dan Dapur Sastra Uniku saat ditemui di sela-sela latihan untuk pementasan Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita, Minggu (28/2/2016).

Selama tiga bulan ini, Aan Sugiantomas bersama anggota teaternya sedang terus berlatih secara disiplin untuk mementaskan lakon “Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita”, sebuah naskah yang ditulis sendiri oleh lelaki yang berprofesi sebagai Dosen di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - FKIP Uniku ini.

Naskah yang bercerita tentang perseteruan dua desa karena perbedaan kasta ini berdurasi hampir 2 jam. Penggarapannya pun memerlukan orang yang tidak sedikit. Tercatat untuk garapan ini, teATeR SADOmelibatkan 80 orang lebih, baik sebagai tim produksi maupun artistik. Mereka yang terlibat dalam pementasan ini adalah anggota senior yang membaur dengan anggota junior. Beberapa tokoh penting dalam lakon ini diperankan oleh beberapa orang sekaligus.

Sebagai contoh pada pementasan yang akan diulang sebanyak 21 kali pertunjukan, aktor dan aktris bergantian memerankan tokoh yang ada. Mereka tentu saja harus punya stamina prima dan kesiapan mental yang baik. Proses garapan yang panjang serta persiapan produksi seperti kostum, make-up, properti, konsumsi juga fasilitas gedung yang perlu dilengkapi seperti listrik, dimer, lampu, seting panggung memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Untuk mengatasi hal itu, teATeR SADO menggandeng sponsor yang peduli terhadap jenis kesenian teater ini, yang barangkali proses produksinya sulit dipahami oleh kebanyakan orang. Lakon “Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita”, dipentaskan dari mulai tanggal 29 Februari 2016 sampai dengan tanggal 13 Maret 2016 di Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan.

“Selain di Kuningan Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita ini juga direncanakan akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta awal Agustus nanti.” Lanjut lelaki penyuka tanaman hias ini.

Pentas di Kuningan sendiri direncanakan hanya seminggu, namun karena banyak peminat untuk menyaksikan pementasan ini, maka pementasan diperpanjang menjadi dua minggu.

Menurut data yang masuk ke tim produksi, selain dari dalam kota pentas ini akan dihadiri pula oleh penonton dari luar kota seperti Ciamis, Cirebon, Majalengka, Tangerang, Bogor, dan Jogja. Mayoritas penonton adalah siswa SMA dan mahasiswa.

Hal itu karena memang di kurikulum SMP, SMA (mata pelajaran Seni Budaya dan Bahasa Indonesia) dan mahasiswa (jurusan pendidikan bahasa dan sastra, PGSD) terdapat pembelajaran tentang drama/teater. Bagi siswa dan mahasiswa, pertunjukan ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran langsung.(red)


Fishing