Aneka

Ngawangkong di Rancabayawak, Bahas Burung Blekok

Alumni ITB'75 berfoto bersama dengan latar belakang burung blekok

Kuningan Terkini, Bandung - Untuk ketiga kalinya kegiatan ngawangkong di Kampung Rancabayawak Cisaranten Kidul, Gedebage Kota Bandung digelar. Kali ini, diskusi bertajuk Ngawangkong Soal Burung Blekok digelar bersama bersama dengan alumni ITB tahun 75 berlangsung seru dan menggugah, Sabtu (27/2/2016).

“Ngawangkong Soal Burung Blekok ini bertujuan untu menyelamatkan burung blekok yang kini terancam keberadaannya oleh pembangunan teknopolis di Gedebage kota Bandung. Ini ngawangkong yang ketiga kalinya pada 2016. Biasanya dihadiri Kang Ayi Vivananda (mantan walikota Bandung, red). Kali ini Ia absen dulu. Sekarang ngawangkong bersama 25 orang Alumni ITB ’75, DPKLTS, dan Gerakan Hejo”, kata Ujang Syafaat (39), Ketua RW 02 Kampung Rancabayawak Cisaranten Kidul, Gedebage Kota Bandung.

Yang menarik dalam ngawangkong kali ini selain dihadiri Camat Gedebage, Bambang, para peserta, tampak antusias mengupayakan penyelamatan sekitar 2.700 burung blekok dan kuntul sawah di 4 rumpun bambu di Rancabayawak. Masing-masing pihak memunculkan solusi sesuai kapasitasnya.

“Sesuai kepakaran kami dari Alumni ITB ’75, akan membawa konsultan atau ahli di bidang lingkungan hidup. Kami ada yang berasal dari LIPI, pensiunan PT KAI, konsultan lingkungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan dosen di beberapa universitas di Jakarta. Sekarang, hanya ikut berembuk pada tahap awal, Prihatin kami, atas nasib habitat burung juga warganya”, kata Utun Sutrisna Sastrawijaya, pimpinan rombongan yang diangguki oleh puluhan rekannya.

Diketahui pula, para Alumni ITB ’75 ini, pada pagi harinya telah berbaksi-sosial di Gunung Masigit, Blok Kareumbi Cicalengka. Mereka menanam 2.000 pohon, pada daerah yang gundul. ”Hanya sedikit saja sumbangan kami untuk pohon. Nanti akan berlanjut. Mungkin saja kami menanam pohon disini”, jelas Ida N Sitompul dan Maslina W.H yang keduanya tampak begitu antusias ketika melihat ratusan burung bertengger di salah satu rumpun bambu di Rancabayawak.

“Hanya lahannya dimana ya, untuk menanam pohon disini?”, lanjut Maslina yang akhirnya paham, persoalan tanah sudah sangat terbatas kepemilikannya di Rancabayawak.

Para Alumni ITB ’75 menyumbangkan sejumlah dana untuk pembelian pakan burung blekok berupa ikan-ikan kecil. ”Baru ini yang bisa kami sumbangkan”, tambah Utun yang hari itu memborong aneka kuliner setempat. Yang diborong itu, mulai dari ratusan telur asin, pepes ikan kurusuk khas Rancabayawak, dan produk lainnya.

“Tamu seperti inilah yang bisa memberkahi kami”, seru Ny. Onih (43), warga Rancabayawak yang suaminya dalam 1 tahun terakhir ini menganggur, karena tanah garapannya sudah dikuasai sepenuhnya oleh pengembang PT Summarecon. Sementara, Camat Gedebage dalam paparannya berjanji akan memperjuangkan keberadaan Kampung Wisata Blekok Rancabayawak.

”Saya sudah diperintah oleh Pak Walikota untuk mendengar aspirasi warga disini. Yakinlah, daerah ini tidak akan digusur oleh proyek Teknopolis sebagaimana santer isyu ahir-ahir ini. Saya jamin itu,” ujarnya. Lain halnya Camat Gedebage, Taufan Suranto dari DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), serta Ir. Muh. Husen alias Husen Lauk dari Gerakan Hejo, memberikan pandangan sedikit berbeda. Daerah ini sebagai cekungan Bandung, sebenarnya rawan oleh amblesan tanah, terpaan puting beliung, dan rawan banjir. “Bila serta merta dijadikan teknopolis, resiko dari segi biaya dan mitigasi bencana sangat tinggi. Kalau pun dibangun, harus ekstra hati-hati”. Husen Lauk, sesuai kepakarannya, justru melihat daerah Rancabayawak ini sebenarnya cocok untuk pembudidayaan ikan yang ramah lingkungan. “Di sekitar sini bisa dibuat semacam kolam dengan ikan endemik. Ikan-ikan kecilnya untuk pakan blekok, sementara yang besarnya bisa dipasarkan”. Namun, pernyataan Husen Lauk ini memperoleh jawaban dari tokoh masyarakat setempat

. ”Jangankan bikin kolam. Semua sawah disekeliling kampung kami yang luasnya 1 hektar, dikuasai PT Summarecon. Tak boleh ditanami apa pun. Ini bikin kami bingung. Pak Camat tadi suruh kita bikin desain sehubungan teknopolis. Nah, tanahnya saja tak ada. Mau mendesain tanah siapa?,” seru H.Bunyamin, tokoh vokal Rancabayawak yang keluhannya diamini puluhan warga setempat. “Kalau blekokpolis sih, bisa?!”

Yang kritis lainya dari keluhan warga setempat, Agus, Mantan Ketua RW 02 Rancabayawak, rupanya Ia masih mengingat dengan cermat janji Walikota Bandung, Dada Rosada pada 8 April 2011 pernah berkunjung ke Rancabayawak. Bukankah Pemkot Bandung punya lahan 5 hektar di Gedebage. Kenapa itu tanah sekitar 2 hektar diberikan untuk blekok. Dulu kan Pak Dada mau beli tanah dari PT Adipura yang sudah di setujui oleh Pak Ruli, Direkturnya.

“Sudah lima tahun ini, tak ada wujudnya. Yang 2 hektar ini, bisa tukar guling dengan PT Sumarecon, kan? Ini mah cara rakyat saja,” celetuknya. Usai acara ngawangkong ini, terdengar beberapa penduduk setempat menggunjingkan dengan cukup lantang.

”Kami tak begitu percaya pada pernyataan Pak Camat tadi dihadapan Alumni ITB ’75. Yang namanya pejabat pemerintah mulai dari lurah hingga walikota, dari dulu tak pernah konsisten. Makanya harus kita ingatkan, ” ujar Teteng (42), warga Rancabayawak yang kini sepenuhnya menganggur.

“Tahu saya nganggur? Tanah garapan saya kini dilarang digarap oleh Satpam PT Summarecon,” lanjutnya sambil menunjuk plang papan nama kepemilikan tanah oleh bukan perorangan lagi di Gedebage. “Sabar ya blekok,”, tutupnya sambil ngloyor pergi. (Harri Safiari/ Shahadat Akbar)


Fishing