Aneka

Cerpen Hidayah (Tamat)

Abun Burhanudin

Jenazah Menempel Ke Tanah Saat Makamnya Mau Dipindahkan

Oleh Abun Burhanudin

Kuningan Terkini - Suatu malam, Randita bermimpi buruk. Dia langsung mengubungkannya dengan peristiwa yang udah lalu, saat Saeful dulu mengguna gunai dia. Randita khawatir, kalau Faturahman bisa berbuat yang sama, kerena merasa sakit hati udak ditolak lamarannya. Randita bener –bener ketakutan. Besoknya dia ngomong ke Sodikin kalo dia mau nikah sama Faturahman. Sodikin merasa senang.

Saat itu juga dia pergi menemui Faturahman untuk menyampaikan keputusan Randita. Faturahman senang dan bersyukur. Faturahman dan Randitapun akhirnya menikah. Randita masih keliatan terpaksa. Buktinya aja dia masih nggak mau tidur bareng sama Faturahman. Dipihak lain, Randita pun ternyata merasa malu karena terus digosipin sama orang-orang. Saat Randita lewat, orang-orang pada nyindir.

Kata mereka, jadi perempuan tuh jangan sok pilihan. Ujung-ujungnya tetep aja dapet lakinya yang jelek. Randita kesel. Faturahman selanjutnya membeli sebidang tanah dan membangun rumah di sana. Dia sengaja memilih tanahnya yang deket ke mesjid supaya gampang beribadah. Randita dibawa pindah. Faturahman juga membawa serta pembantunya yang setia, Mang Emod dan Bik Ratna.

Tapi Randita masih keliatan merasa terpaksa. Sering kali Randita bersikap kasar, dan nggak mau juga digaulin sama Faturahman. Tidurnyapun masih pisah ranjang. Tapi Faturahman tetep sabar. Suatu ketika, Randita lagi dibelakang rumah. Tiba-tiba sebuah pohon yang ukurannya agak besar, roboh dan mau menimpa tubuh Randita. Faturahman yang melihat itu kaget. Dia buru-buru mendorong tubuh Randita. Randita selamat. Tapi pohon akhirnya menimpa Faturahman. Randita merasa terharu.

Sejak saat itu, sikapnyapun mulai berubah seratus delapan puluh derajat. Randita jadi istri yang solehah dan selalu nurut sama suaminya. Faturahman kemudian mengganti namanya menjadi Khadijah, supaya disayang sama Allah seperti Allah menyayangi Siti Khadijah istri Rasulullah. Di musim haji, Faturahman berangkat haji. Tapi cuman sendirian aja, karena biayanya belum cukup kalo harus membawa Khadijah.

Sebelum berangkat Faturahman berpesan agar selama dia pergi haji, Khadijah jangan keluar rumah. Alasannya, seorang istri yang keluar rumah tanpa suaminya, akan lebih banyak mudorotnya ketimbang tinggal di rumah. Khadijah yang udah menjadi solehah itu bilang kalo dia akan taat pada perintah suaminya. Faturahman merasa senang. Ternyata Khadijah bener-bener mentaati perintah suaminya.

Semenjak Faturahman berangkat haji, tak sekalipun dia keluar rumah. Urusan belanja atau apa, diserahkan sama Mang Emod dan bik Ratna. Suatu ketika, Masitoh, ibunya Khadijah, sakit keras dan sedang sekarat. Tetangganya ngasih tahu Khadijah. Khadijah jadi dilema. Di satu sisi dia udah berjanji sama suaminya untuk tidak keluar rumah. Di sisi lain, dia juga nggak tega, kalo sampe tidak menemui ibunya yang sedang sekarat. Khadijah lalu shalat istiharoh. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak keluar rumah sesuai pesan suaminya. Sampai akhirnya Masitoh meninggal. Khadijah nggak juga datang. Kyai Suleman mengutus seseorang untuk memanggil Khadijah supaya menghadiri upacara pemakaman Masitoh. Tapi Khadijah tetep juga tidak datang.

Pak Kyai akhirnya memutuskan untuk segera menguburkan Masitoh tanpa menunggu lagi Khadijah. Sementara di rumahnya, Khadijah merasa sedih. Dia cuman bisa mendoakan ibunya supaya iman islamnya diterima oleh Allah. Orang-orang pada kesal dan marah sama Khadijah, karena menganggap udah durhaka sama ibunya. Rumah Khadijah dilempari pake batu. Untung saja saat itu pak kyai dan pak lurah Somad keburu datang. Orang-orang bisa diamankan. Tapi di dalam rumah Khadijah bener-bener merasa sedih.

Ternyata kesedihan Khadijah nggak sampai di situ saja. Dia mendapat kabar kalo Faturahman meninggal di tanah suci. Khadijah bener-bener merasa sedih dan terpukul. Baru aja ditinggal mati ibunya, sekarang suaminya juga meninggal. Yang paling membuatnya sedih, karena Khadijah nggak punya bisa ketemu dulu sama suaminya maupun ibunnya untuk terakhir kali.

Saking sedihnya, beberapa hari kemudian, Khadijahpun akhrnya jatuh sakit. Khadijah merasa kalo ajalnya sudah dekat. Diapun berwasiat kepada bah Sodiq dan bi Sani, supaya kalo dia meninggal jasadnya di kuburkan di dalam rumah aja. Ini untuk memenuhi janjinya kepada suaminya untuk tidak meninggalkan rumah. Tak lama kemudian Khadijahpun meninggal.

Sesuai amanatnya, dia dikuburkan di dalam rumah. Begitulah kisahnya, kata Mang Emod, mengakhiri ceritanya. Setelah mendengar cerita itu, Ustad Yusuf lalu memutuskan untuk tidak memindahkan makam Khadijah ke tempat lain. Makam Khadijah akhirnya dimasukan ke dalam komplek mesjid. Dan Mesjidnyapun dinamai Mesjid Faturahman.

Tamat..


Fishing