Kuningan (KaTer) - Saat ini, hasil panen para petani Desa Rambatan Ciniru tengah dirundung masalah. Sebab, hasil panen yang diharapkan bakal meningkat malah berkurang secara signifikan. Hasil panen para petani hanya cukup untuk membayar upah buruh bawon atau pekerja lepas penggarap sawah.
Salah seorang petani, Juma kepada KaTer saat ditemui di areal persawahan menuturkan, Selasa (23/4/2014), hasil panen saat ini berkurang sangat signifikan. Hal itu karena hama wereng yang menyerang areal persawahan petani. Sehingga, jumlah hasil panen hanya cukup untuk menghidupi keluarga di rumah, dan sisanya lagi untuk upah para buruh bawon.
“Proses penanaman padi sejak masa tanam hingga panen memang tak lepas dari bantuan para buruh bawon. Namun, saat ini dirasa sangat rugi karena tidak ada hasil yang lebih untuk dijual, cukup untuk membayar para penggarap sawah,” katanya.
Disebutkan, jika tahun lalu panen dari lahan seluas 250 bata bisa menghasilkan 600 Kg gabah basah. Saat ini, kondisi tersebut terbalik. Bahkan, apabila bisa menghasilkan panen separuhnya saja bisa dikatakan untung.
“Dalam mengolah sawah, saya tidak mau serakah. Karena itu, para penggarap sawah saya berdayakan dan hasil panen kita bagi sama-sama. Manfaat dari berbagi itu jelas terasa baik dalam keadaan senang atau susah, contohnya jika panen padi gagal,” ujarnya diamini penggarap sawah lainnya yakni Suhati, Kusmadi, Armini dan Cinah asal warga Desa Rambatan Ciniru.
Dalam keadaan merugi sambung Juma, sebenarnya tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Namun, biaya yang dikeluarkan sebagai modal dari 100 bata bisa mencapai Rp 1,5 Juta, hasil panen malah sedikit. Apalagi kalau secara adat, setiap upah bawon harus dibayar sebanyak 20 Kg gabah hasil panen padi setiap orangnya.
“Saya berharap sih pemerintah setempat bisa memberikan perhatian terhadap nasib para petani. Apalagi hal itu didukung oleh areal atau lahan pertanian yang masih produktif dan belum beralih fungsi sebagai pemukiman warga,” pungkasnya.(AND)