• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Sel28092021

Last updateSel, 28 Sep 2021 1pm

BJB

Kesehatan

Genie: Pelayanan RSUD’45 Kuningan Kurang Responsif?

RSUD'45 Kuningan.

Kuningan Terkini - Permasalahan RS Umum Daerah Kabupaten Kuningan (RSUD 45) dari tahun ke tahun, periode ke periode kepemimpinan direktur, nampaknya tidak ada perubahan. Persoalan yang selalu muncul, tetap masalah pelayanan yang kurang responsip terhadap pasien maupun keluarga pasien. Hal ini dialami mantan aktifis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Genie.

Menurutnya, kejadian yang tidak mengenakan itu ketika Ia membawa anak sulungnya berobat ke ke poli anak di RSUD’45. Hal ini karena sudah 4 hari mengalami batuk, pilek, demam serta sesak nafas. “Saya bawa anak saya berobat ke RSUD 45, karena tidak jauh dari tempat kerjanya. Jadi, jika nanti harus dirawat, saya bisa melihat kondisi anak saya saat istirahat kerja," kata Genie, Selasa (15/06/2021).

Lebih lanjut Genie mengungkapkan, saat mendaftarkan anaknya, Ia menggunakan jalur umum, tidak menggunakan BPJS. Untuk pemeriksaan, Ia membayar biaya pendaftaran sebesar 60 ribu rupiah. Selanjutnya, Ia di arahkan untuk langsung ke poli anak dan secara kebetulan tidak antri. “Setalah di lakukan pemeriksaan, dokter menyarankan untuk dirawat di rumah sakit. Saya dan istri menyetujui untuk dilakukan perawatan, karena kondisi anak sulungnya mengkhawatirkan,” paparnya.

Setelah mendapatkan kamar kata Genie, Ia diminta ke apotek rawat inap untuk mengambil obat. Selanjutnya ke admisi dan ke laboratorium untuk diambil sampel darah dan rapid. Kemudian ke bagian radiologi untuk di lakukan poto rontgen. Namun, meknisme yang dilakukan, ternyata di anggap salah oleh bagian admisi.

“Saya akhirnya mengikuti arahan dari staff admisi tersebut. Saya langsung ke lab untuk melakukan pengecekan dan membayar 195.000 rupiah. Setelah selesai, saya di sarankan staf lab untuk ke admisi lagi sambil menunggu hasil lab keluar,” terangnya.

Setelah dari lab ujar Genie, Ia bersama anaknya kebagian radiologi untuk di rontgen. Disitu Ia mendapat pertanyaan konyol. Usai memeriksa berkas, staf radiologi menganggap anaknya rawat jalan. Akhirnya, Ia menjelaskan bahwa anaknya itu rawat inap dan sudah dapat kamar.

“Setelah dijelaskan, Staf radiologi bertanya, kenapa rawat inap harus membayar jasa radiologi duluan, padahal biasanya diakhir ketika pasien pulang. Meski sedikit kesaL, Saya tidak mempermasalahkannya,” ujarnya.

Sambil menunggu hasil lab keluar terang Genie, Ia kembali ke admisi sesuai saran staf lab. Namun, lagi-lagi Ia dan anaknya ditolak oleh admisi untuk masuk ruangan, dengan alasan menunggu hasil dari lab yang menurut admisi sekitar 30 menit. Karena melihat anaknya dalam kondisi yang mengkhawatirkan, Ia berinisiatif untuk menanyakan hasil lab secara langsung.

“Saya benar-benar kaget saat mendapat jawaban bahwa hasil pemeriksaan lab anaknya keluar 2 jam kedepan,” ucapnya.

Ini kata Genie, yang jadi masalah. Kenapa pasien harus menunggu administrasi selesai, baru mendapat penanganan, padahal pasien sudah mendapatkan kamar. Karena khawatir terhadap kondisi anaknya, Ia terpaksa membatalkan rawat inap di RSUD 45 dan memilih membawa ke RS Sekarkamulyan.

“Saya berharap, Bupati, wakil Bupati serta anggota legislatif dikomisi pendidikan dan kesehatan, bisa menanggapi permasalahan RSUD 45 ini secara serius. Selain itu, sekda harus bisa memberikan bimbingan kepada ASN yang bertugas di RSUD 45 agar ramah, senyum serta memberikan rasa nyaman kepada pasien maupun keluarga pasien,” pungkasnya.(gg)

Add comment


Security code
Refresh