• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Sen25012021

Last updateSab, 23 Jan 2021 11am

BJB

Olahraga

Ir Putu Bagiasna Pimpin Cabor Wushu Kuningan

Ir Putu Bagiasna Pimpin Cabor Wushu Kuningan

Kuningan Terkini - Organisasi Cabang Olahraga (Cabor) Wushu di Kabupaten Kuningan, telah bermetamorfosis dalam kepengurusannya. Semula dikomandani Ir. H. Jajat Sudrajat, selama satu periode atawa empat tahun. Kini beralih ke Ir. Putu Bagiasna selaku ketua umum dan Ir. Wawan Setiawan sebagai wakilnya.

Pergeseran kepemimpinan ini bukan tidak ada dinamika, justru dinamisnya terus bergerak sampai dilaksanakannya Musyawarah Kabupaten (Muskab). Sangat wajar ketika ada dinamika peralihan kepengurusan. Sebab jaman demokrasi seperti sekarang ini sudah menjadi treding sejak reformasi digulirkan.

Adanya dinamika bukan lantas menajam, justru semakin memerkaya khasanah wushu di Kabupaten Kuningan. Sebab anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) sangat letterlack, artinya elemen-elemen atawa persyaratan dapat dilaksanakannya Muskab karena adanya sasasna atawa klub bukan dipilih oleh pengurus.

“Saya menghargai dinamika yang terjadi di tubuh wushu. Sampai berminggu-minggu kita berdebat baik dengan pengurus maupun dengan KONI sebab ganjalan yang dikedepankan adalah satu syaratnya yakni adanya sasana. Nah kita cari pemahaman yang sama antara pengurus dengan pihak KONI,” ucap Didin Syafarudin Ketua Sterring Comitte Muskab, Senin (23/11/2020).

Bercermin ke daerah lain di Jabar, kecuali Jawa Tengah dan Jawa Timur sambungnya, hampir seluruh Pengcab Wushu tidak memiliki sasana banyak di daerahnya masing-masing. Contoh kecil Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, tidak memiliki sasana wushu kecuali kungfu dan barongsay. “Kungfu dan barongsay adanya di asosiasi wushu tradisional,” terangnya.

Sementara di Kabupaten Kuningan, masih kata Didin Syafaruddin, sasananya dipegang langsung oleh Pengurus Cabang (Pengcab) dan ini harus disamakan cabor-cabor lainnya. “Wushu ini tidak harus disamakan dengan cabor lain. Baik oleh pengurus sendiri maupun KONI. Sebab belum adanya pemasalan atau merakyatnya Wushu,” ucapnya.

Akhirny terang Didin, bentuk kompromis yang realistis adalah melakukan kesepahaman dalam tata tertib pelaksanaan muskab. Jadi wushu melakukan pemilihan dengan menyerahkan hak suara kepada pengurus yang hadir dalam Muskab. Sementara pengurus yang tidak hadir hak suaranya menjadi hangus.

“Begitu pun dalam pemilihan ketua, kita melakukan kompromi situasional. Artinya calon ketua yang hadir dapat diproses lebih lanjut dalam kontelasi pemilihan. Sedangkan calon ketua yang tidak hadir meski diusulkan oleh peserta muskab. Dan diberi tenggang waktu selama dua puluh menit tidak hadir juga maka didiskualifikasi,” pungkasnya.(gg)

Add comment


Security code
Refresh