Pendidikan

Guru Dituntut Mampu Hadapi MEA 2015

Alan Suwgiri

Kuningan Terkini - Praktisi pendidikan Alan Suwgiri menilai pada saat ini guru diharapkan harus mampu melahirkan kualitas pendidikan kepada peserta didik, terlebih menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

"Keberhasilan pendidikan itu tentu guru sebagai ujung tombak untuk mencetak pendidikan yang berkualitas. Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas itu, maka guru wajib memiliki empat kompetensi agar pengajaran mudah diterima oleh peserta didik,” ucap Alan yang juga sebagai guru di SMKN 1 Luragung dan SMK Cendekia Utama Lebakwangi kepada KaTer, saat mengunjungi kantor redaksi di Jl Ir H Juanda Kuningan, Minggu (3/5/2015).

Dia menjelaskan, berdasarkan UU Sisdiknas pasal 1 ayat 1 dan pasal 3, definisi pendidikan lebih cocok diartikan sebagai sebuah esensi bahwa pendidikan itu tidak mencetak, tetapi mengembangkan kemampuan.

“Kemudian proses pembelajaran menurut PP nomor 19/2005 yaitu sebuah kondisi pembelajaran yang diselenggarakan sedemikian rupa sehingga terasa hidup, memotivasi, interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian peserta didik sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologisnya,” katanya.

Oleh sebab itu kata Alan, keempat kompetensi yang wajib dimiliki seorang pendidik antara lain memiliki keilmuan pedagogis, kepribadian, sosial dan didaktik. Guru dituntut memiliki kecakapan penyampaian materi pengajaran kepada peserta didik, sehingga harus menguasai keilmuan pedagogis.

“Di samping itu, rekam jejak guru harus memiliki kerpibadian, sosial dan didaktik yang baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Sebab fungsi guru dalam pendidikan bukan hanya penghantar ilmu pengetahuan saja, tetapi guru juga sebagai fasilitator,” ujarnya.

Pada prinsipnya lanjut Alan, pendidikan itu mencetak manusia berkualitas dengan disiplin ilmu juga memiliki kepribadian dan ahklak yang baik. Selain itu juga, guru harus memahami kurikulum sehingga proses pengajaran berjalan dengan baik.

“Misalnya, esensi kurikulum 2013 itu sebagai cara merubah paradigma guru itu sendiri. Sebuah paradigma yang harus dibangun di era digital teknologi dengan optimalisasi pemanfaatan teknologi. Sebab pemahaman teknologi tidak hanya terletak pada hard teknologinya, tapi pada soft teknologinya,” terangnya.

Oleh karena itu, dirinya yang juga sebagai tenaga pendidik mengingatkan kepada para peserta didik agar tidak terjebak ‘latah’ teknologi, namun sebaliknya pelajar bisa lebih ‘melek’ teknologi.

“Pada Kurikulum 2013, diharapkan bagaimana seorang guru mampu merekayasa proses pembelajaran, agar pelajar lebih siap menggunakan ilmu teknologi secara optimal,” pungkasnya. (AND)


Fishing