Pendidikan

Nana: Apakah UN Mutlak Diperlukan?

Nana Mulyana Latief

Kuningan (KaTer) - Untuk apakah UN/UNAS sebetulnya, apakah UN mutlak diperlukan? Demikian beberapa pertanyaan yang dilontarkan sekjen PEKAT Indonesi Bersatu, Nana Mulyana Latief saat berbincang dengan KaTer di kediamannya, Jum’at (31/1/2014). Menurutnya, ada beberapa negara maju yang ternyata tidak menerapkan UN pada sistem pendidikannya, salah satunya Fonlandia.

“Sebagai negara dengan system pendidikan termaju didunia, Finlandia tidak mengenal yang namanya UN. Evaluasi mutu pendidikan sepenuhnya dipercayakan kepada guru, sehiongga negara berkewajiban melatih dan mendidik guru agar bisa melaksanakan evaluasi yang berkualitas,” katanya.

Di Finlandia kata Nana, setiap akhir semester, siswa menerima laporan pendidikan berdasarkan evaluasi yang sifatnya personal dengan tidak membandingkan atau melabel para siswa dengan peringkat juara seperti yang telah menjadi tradisi pendidikan di Indonesia.

“Mereka sangat meyakini, bahwa setiap individu adalah unik dan memiliki kemampuan yang berbeda beda. Di Finlandia profesi guru, adalah profesi yang paling terhormat. Dokter justru berada dibawah peringkat guru,” terangnya.

Sementara di negara adi daya, Amerika sambung Nana, meski ada ujian yang diselenggarakan oleh masing-masing negara bagian, namun tidak semua sekolah diwajibkan mengikuti UN. Tiap negara bagian juga mempunyai materi ujian masing-masing.

“Sekolah-sekolah tetap boleh menyelenggarakan ujian sendiri dan menentukan kelulusannya sendiri. Semua lulusan, baik lulusan yang diselenggarakan oleh sekolahnya sendiri atau lulus ujian yang diselenggarakan negara bagian, tetap boleh mengikuti ujian masuk ke college ataupun universitas asal memenuhi persyarata dan lulus test,” ujarnya.

Logika pendidikan yang digunakan di Amerika tutur Nana, yang digunakan adalah kualitas pendidikan ditentukan oleh individu masing-masing kelulusan. Masalah kualitas ditentukan oleh individu (individual quality). “Nasionalisasi ujian sekolah tidak bisa memberi kreativitas guru. Sekolah tidak bisa menciptakan strategi belajar sesuai dengan perbedaan kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta kemajuan teknologi,” paparnya.

Diakhir perbincangan, Nana menjelaskan terkait pendidikan di Jerman. Menurutnya, kebijakan yang diutamakan di Jerman adalah membantu setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal. Yaitu, dengan menyediakan guru yg profesional, menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan penuh kegembiraan dan nyaman, menyediakan media pembelajaran yg kaya dan lengkap, evaluasi yang terus mnerus, komprehensif dan obyektif.(AND)