Pendidikan

Praktisi Pendidikan Sambut Kurikulum 2014

Foto ilustrasi

Kuningan (KaTer) - Kalangan praktisi pendidikan menyambut baik rencana kebijakan pemerintah pusat tentang perampingan kurikulum yang tengah digodok di Kementerian Pendidikan. Kurikulum 2014 merupakan terobosan positif bagi kalangan pelajar sekolah khususnya tingkat SD.

“Keberadaan kurikulum yang saat ini dipergunakan dinilai kurang efektif terhadap kondisi kalangan peserta didik, apalagi dengan sistem metode lama yaitu ceramah,” ujar salah seorang tenaga pengajar salah satu sekolah di Darma, Abdul Cholis kepada KaTer, Rabu (5/2/2014).

Bagi kalangan peserta didik SD lanjut Abdul, memang harus mendapat ruang waktu yang didominasi oleh permainan. Namun, hal ini tentunya tidak mengurangi nilai-nilai dasar pendidikan. Disamping itu, keberadaan tersebut juga sebagai antisipasi dalam menghadapi perkembangan dan pertumbuhan siswa di masa mendatang.

“Manfaat dalam perampingan kurikulum jelas terbukti, salah satunya yakni sebagai media dalam melakukan pencegahan kepribadian siswa di masa mendatang kelak. Kongkritnya, cara pengajaran yang berimbang dengan permainan justru sangat baik diterapkan,” katanya.

Andul menuturkan, keberadaan siswa SD sangat mempengaruhi masa depan Bangsa kelak. Oleh karena itu, baiknya mereka para siswa SD jangan terlalu dibebani materi pembelajaran dan pemahaman pendidikan yang berlebihan. Hal itu dikhawatirkan dapat mengganggu psikologi siswa yang sedang pada masa perkembangan.

“Untuk seusia mereka, baiknya tidak dibebankan dengan pasokan pengetahuan yang terlalu dalam, karena belum mampu menyerap materi secara maksimal. Apabila hal itu tetap dipaksakan, jelas akan berdampak pada pertumbuhan siswa nantinya. Terutama terkikisnya minat mengikuti rutinitas KBM,” ungkapnya.

Dia menerangkan, melihat keberadaan komposisi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut, tentunya harus mengalami perubahan dan menjadi Kurikulum ASK (Attitude, Skill, Knowlegde). Sebab, keberadaan kurikulum pendidikan baru akan mengubah mindset pendidikan. Hal itu tentunya bersifat akademik juga menjadi dwiparadigma, dalam hal akademik dan kharakter.

“Sebagai harapan, keberadaan penerapan kurikulum baru bisa mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional secara akademik dan tangguh serta memiliki daya kreatifitas yang berkharakter,” pungkasnya.(AND)