Pendidikan

Biopori, Solusi Atasi Banjir

Siswa Smansaka saat mengikuti sosialisasi dan pelatihan pembuatan lubang resapan biopori.

Kuningan (KaTer) - Organisasi pecinta lingkungan Sismakala mengadakan sosialisasi dan pelatihan pembuatan lubang resapan biopori kepada sejumlah siswa SMA N 1 Kadugede (Smansaka) di Ruang Terbuka Hijau, Rabu (12/2/2014). Kegiatan ekstrakurikuker ini merupakan salah satu wujud untuk meningkatkan kepedulian lingkungan dengan sistem biopori atau lubang resapan biopori.

Menurut Pembina Sismakala, Bayu Abdurahim, S.Pd, kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah siswa dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia. Pada kalender lingkungan hidup, merupakan hari bersejarah tepatnya ditandatangani Konvensi Lahan Basah, yang disebut Konvensi Ramsar pada tanggal 2 Februari 1971 di Kota Ramsar terletak di Pantai Laut Kaspia Iran.

"Pengenalan atau pemberian pemahaman kepada pelajar harus terus ditingkatkan agar mereka dapat menunjang tercapainya kesejahteraan lingkungan sehingga ke depan perubahan iklim bisa diminimalisasi," katanya.

Dengan adanya keterlibatan anak-anak didik kata Bayu, kegiatan ini dapat melatih siswa untuk turut berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan membuat lubang resapan biopori, diharapkan dapat menjadi solusi sederhana meminimalisir banjir seperti yang kerap terjadi di berbagai daerah.

“Lubang resapan biopori merupakan metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya,” ujarnya.

Sekarang ini tambah Bayu, Smansaka berorientasi pada program sekolah Adiwiyata. Dimana di dalamnya bertujuan untuk mempertajam indikator pencapaian, evaluasi , monitoring, sosialisasi sekolah berbudaya lingkungan. Disamping itu juga membuat peraturan sekolah bidang kurikulum agar setiap mata pelajaran terintegrasi dengan lingkungan.

“Biopori merupakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resapan air, mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan),” pungkasnya.(AND)


Fishing