Kuningan (Kater) - Persoalan tenaga honorer kategori 2 yang tidak lulus CPNS, khususnya di Kabupaten Kuningan disikapi serius tokoh Pendidikan Kuningan, Drs Toto Sudito yang akrab disapa Abah Mabora, Jum’at (21/2/2014). Menurutnya, pemerintah khususnya Kabupaten Kuningan harus bisa mencari solusinya sehingga persoalan tenaga honorer diselesaikan dengan baik.
Saat ini kata Abah Mabora, system yang digunakan dalam penyaringan CPNS dinilai kurang tepat, sehingga timbul gejolak, tidak saja di Kuningan, juga di daerah lain se Indonesia. Saat ini, proses pengangkatan tenaga honorer K2 untuk menjadi CPNS tidak akan ada perbedaan, semuanya sama tanpa ada pengecualian serta tanpa adanya pengistimewaan.
“Seluruh golongan tenaga honorer K2 dites. Yang dinyatakan diterima pada penerimaan CPNS tahun anggaran 2013 ini hanya 30 persen dari jumlah kuota yang telah ditetapkan. Bagaimana dengan yang tidak lolos? Ini harus ada solusinya,” kata Abah Mabora setengah bertanya.
Seharusnya kata Abah Mabora, dalam penyaringan CPNS tenaga honorer K2 ini, ada kriteria khusus bagi tenaga honorer K2. Kriteria ini bisa dilihat dari masa kerja dan usia tenaga honorer K2, sehingga tidak ada kecemburuan bagi yang sudah bekerja puluhan tahun dengan yang baru bekerja.
“Dalam penerimaan CPNS sekarang ini, kriteria itu tidak ada. Bahkan, banyak tenaga honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi tidak diterima, sementara tenaga honorer yang belum lama mengabdi diterima. Menurut saya ini tidak adil,” ujarnya.
Jika kebijakan tidak dirubah sambung Abah Mabora, tenaga honorer yang gagal diangkat jadi CPNS, khususnya yang sudah mengabdi puluhan tahun, akan selamanya menjadi tenaga honorer. Untuk itu, Ia mendesak pemerintah agar sesegera mungkin mencari solusinya. Hal ini sesuai dengan PP nomor 58 yang berbunyi semua golongan tenaga honorer K2 harus dapat terselesaikan semuanya.
“Saya berharap, seluruh tenaga honorer K2 bisa diterima jadi CPNS tanpa kecuali. Kasihan mereka, sudah mengabdi puluhan tahun dengan gaji yang diterima ala kadarnya,” terangnya.(AND)