Politik

Politik Kabel Listrik

Foto Ilustrasi

Kuningan Terkini- Ilmu pengetahuan politik, selama ini diparadokan sebagai ilmu yang mudah dibicarakan, digelembungkan dan dicerna pelbagai lapisan masyarakat. Betapa ironis, ketika pengetahuan politik didapat dari hasil wangkongan, diskusi, bahkan berasal dari televisi maupun artikel sembarang yang didapat dari dunia maya.

Meski ada adagium bahwa politik bisa diperoleh dari kampus-kampus dan bersifat ilmiah. Namun tidak jarang politik dipahami dan digeneralkan sebagai praktis. Tak ubahnya menghapal cara-cara praktis berdagang, berwirausaha, pertanian, perkebunan dan sejenisnya.

Wal hasil dari pengetahuan praktis, maka melahirkan cara-cara pragmatis untuk memperoleh kekuasaan. Apalagi, dalam implementasikan disampaikan kepada masyarakat awan, notabene tak paham gaya dan model bahasa politik yang bersayap atawa double makna. Maka hasilnya umpama dua mata pisau yang mengiris ke sana ke mari.

Seperti sekarang ini, disaat hajatan negara lima tahun sekali. Banyak sekali diksi-diksi politik umpama trisula. Kadang tidak bisa dipahami kemana mengarah yang tajamnya. Hanya diterima, kemudian dilontarkan kembali menjadi banyak makna. Sesuai selera dan harapan dari si pembuat diksi politik itu sendiri.

Ketika, umpamanya ada diksi politik yang memiliki konotasi berlawanan dengan lawan politik. Tentu tanpa dimaknai itu sebagai bahasa politik yang memiliki makna ganda. Secara serampangan dimaknai menyerang dan harus dikuliti sampai tandas. Meski cara mengulitinya tidak menggunakan prasyarat akademik.

Kita kadang terjebak dengan diksi politik dan perilaku politik. Dalam politik tidak mengenal perilaku politik. Tapi bagaimana mengadopsi diksi politik menjadi tindakan politis. Bagi politisi, perilaku politik tidak akan dibawa ke ranah publik, misalnya sebagai alat agitasi atawa perlawanan terhadap diksi politik.

Diksi politik akan dimaknai sebagai diksi politik dan dijawab dengan metode pengetahuan akademik politik juga. Akan berbeda makna ketika diksi politik menjadi perilaku politik dan dipahami sebagai etos kerja politik. Justru yang harus dipahami ialah bagaimana diksi politik menjadi tindakan politis.

Artinya di sini bahwa politik harus menyiratkan etos kerja politik yang mampu mendorong masyarakat meningkatkan kesadaran berpolitik. Kesadaran berpolitik bukan dalam pengertian homo homini lupus. Tapi lebih dari mengadopsi diksi yang memberikan ruang kecerdasan masyarakat supaya meletakan pada porsi yang layak.

Setiap peristiwa politik yang terjadi. Bukan sebaliknya memberikan penyedap rasa sehingga aromanya kurang sedap dalam pergaulan perpolitikan yang bermartabat. Politik juga bukan cara menghiponotis masyarakat untuk meyakini sesuatu yang masih abu-abu. Justru peran politik, memberikan penjelasan atas wilayah-wilayah yang masih abu-abu menjadi terang benderang.

Apabila, belakangan ini politik dimaknai kabel lisrik. Maka, politik jangan menyetroom kesegala arah dan menyampuradukan antara perilaku politik dan diksi politik. Hal ini sebagai salah satu upaya menjaga dinamika politik yang harmoni dan bermartabat.(TaNio)