Kuningan Terkini - Seiring dengan perkembangan zaman saat ini yang serba modern, Sarpi (70) yang tinggal bersama istrinya, Siti di Desa Citangtu, RT 24, RW 05 blok Wangun, Kabupaten Kuningan, masih tetap setia menggeluti profesinya sebagai pengrajin anyaman dari bambu. Berbagai kerajinan anyaman bambu mampu diproduksinya, salah satunya tampah (alat untuk mengayak beras).
“Saya belajar menganyam dari orang tua. Karena, dulu orang tua saya juga sebagai pengrajin anyaman bambu,” katanya kepada Kuningan Terkini, Kamis (17/11/2016). Desa Citangtu kata Sarpi, sejak dulu merupakan pusat kerajinan anyaman dari bambu. Bahkan, alat kesenian dari bambu, seperti suling dan angklung juga diproduksi di desa Citangtu. Selain itu, Desa Citangtu juga memiliki produk khasnya yang dusah ada sejak dulu, yakni emping dan opak becak. Emping berbahan baku dari melinjo dan opak becak berbahan dasar dari singkong
“Tidak sulit untuk memperoleh bahan bakunya. Disini banyak dan kualitas bambunya juga bagus,” ucapnya.
Dalam sehari sambung Sarpi, Ia hanya mampu membuat tiga buah tampah, karena, prosesnya lama. Seperti, memotong bambu, merajut, menjemur hingga menganyam. Setelah terkumpul banyak, baru di jual kepada pelanggannya di pasar.
“Alhamdulillah, meski keuntungannya tidak terlalu besar, saya bisa menghidupi keluarga,” terangnya.(l.hakim)