Bandung (KaTer) - Diluar kelaziman, suasana dialog di cafe The Centrum Jl. Belitung No 10 Bandung, Senin pagi (20/01/14) berlangsung blak-blakan dan menarik. Dialog bertajuk Pembangunan Berbasis Kependudukan yang digelar diselengarakan IPKB (Ikatan Penulis Keluarga Berencana) Kota Bandung mengungkap sisi lain sosok waria dan mantan penasun (pemakai narkoba suntik) dalam mengarungi kehidupannya.
Adalah Funny Dolly (38), seorang waria mempunyai nama resmi di e-KTP sebagai Jajang Surajang (bukan nama sebenarnya). Kiprahnya di organisasi Srikandi Pasundan (SP) di kota Cimahi, ternyata sejak lama ia memperjuangkan sedikitnya 3.000 lebih waria di Jawa Barat. Dihadapan puluhan pewarta, calon legislatif yang akan bertarung di pemilihan legislatif April 2014, serta peminat masalah kependudukan, terang-terangan mengungkapkan kesulitan hidupnya.
“Aku ini memang wanita yang juga pria, ya manusia setengah wanita juga setengah pria. Bahkan mungkin setengah hidu,” tuturnya dengan nada lurus tanpa memperlihatkan roman memelas. “Tapi tak patah semangat kan?”, timpal Dewi (43), pekerja sosial dari Yayasan Grapiks (Graha Prima Sejahtera) yang sejak 2005 lalu mendampingi personal yang berkaitan dengan stigma penasun.
“Tentu tidaklah, justru makin tertantang. Ribuan sesama aku, menanti perhatian dari pemerintah dan para caleg. Mereka ini harus diperjuangkan agar sejajar dengan warga lainnya. Para caleg jangan janji-janji saja dong,” papar Funny lulusan SMA swasta di kota Cimahi pada 1995.
Berbagai pertanyaan dilontarkan dalam dialog ini, salah satunya terkait dengan waria yang suka keluar malam hari dan berdandan seronok. Dengan santai Funny menjelaskan. Hasrat itu sukar dibendung bagi kalangan seperti dirinya. Ini semacam pelampiasan saja, karena kalau siang hari kan bisa ketahuan 100 persen modalnya.
“Pemerintah, salurkan dong hasrat bersolek kami seperti pemerintah Thailand sana. Di Pattaya bukankah kreasi kaum seperti kami bisa jadi komoditas pariwisata di industri hiburan resmi,” ujarnya disambut gelak tawa audien yang hadir.
Lain Funny, lain pula Deddy, bukan nama sebenarnya (29), pria lajang yang punya predikat mantan penasun ini sudah lama bertobat dan clear secara medis. Hal ini diperkuat dengan pernyataan pemandu dialog, dr. Teddy Hidayat, Sp.K.J.(K). “Deddy, mudahkah mencari pasangan hidup. Bila calon pasangan tahu Anda mantan penasun,” tanya Teddy Hidayat. Ternyata, penuturan Deddy sungguh menghentak hadirin. Stigma sebagai mantan penasun bisa berdampak luas dan mendalam, niat sucinya membina rumah tangga bisa berbelit-belit.
“Justru itulah saya jadi pegiat di Grapiks. Ada ribuan rekan senasib yang terdiskriminasi. Kami adalah korban dari maraknya narkoba di negeri ini,” kata Deddy yang menyayangkan masih ada korban narkoba secara gampangan dipidanakan pihak berwenang.(HS)