Profil

Regina, Crosser Belia Berbakat

Regina

Kuningan (KaTer) - Gadis cantik, muda, dan berbakat. Merupakan kesan awal setiap orang saat bertemu dengan crosser yang masih duduk di bangku SMP yang berada di wilayah Cirebon. Hebatnya lagi, ia adalah satu-satunya crosser perempuan yang sudah muncul dalam sejumlah kejuaraan motocross di tingkat daerah.

Adalah Regina Nurjati P, crosser belia yang masih berusia 15 tahun mempunyai talenta dan keberanian yang patut diacungi jempol. Dengan kuda besi kesayangannya, crosser belia ini mampu menaklukan sirkuit balap di kawasan jalan Soekarno (eks pacuan kuda) yang penuh tantangan.

Gadis belia yang berdomisili di kawasan Griya Wisata Kuningan, saat ditemui KaTer, Senin (3/2/2014) di kawasan Sirkuit Pacuan Kuda, tepatnya Jalan Ir Sukarno Cijoho Kuningan tengah serius mengikuti latihan rutin. Tak ada perbedaan yang mencolok pada gadis belia tersebut karena tampak seperti remaja putri lainnya. Penampilan feminim jauh dari kesan yang menunjukan bahwa ia sangat menyukai olahraga si kuda besi motorcross.

“Balap motorcross memang selama ini menjadi stigma olahraga liar di masyarakat seperti kebut-kebutan dan sebutan olah raga yang kerap mendatangkan petaka. Namun, bagi saya dan crosser yang lain bertekad untuk mengubah anggapan tersebut dengan menunjukan prestasi yang membanggakan di bidang olahraga motorcross,” kata Regina di sela-sela mengikuti latihan.

Bima Racing Concept (BRC) Kuningan kata Regina, merupakan salah satu Motorcross Scholl yang telah mencetak crosser profesional di Kuningan. Hal inilah yang membuatnya ikut latihan di BRC. Niatnya menggeluti olahraga motocross yang terkenal cadas dan brutal tersebut, berasal dari hati, tidak ada paksaan atau tekanan dari siapapun.

“Kalau jatuh-jatuh saat latihan itu sudah makanan biasa. Apalagi sewaktu ikut latihan dan kejuaraan motorcross, sederetan motor dibariskan dan saya satu-satunya cewek di barisan itu. Tapi tidak ada kata takut, biasa saja dan yang pasti tetap semangat,” ujarnya.

Dia berharap para croser dapat diterima di tengah-tengah masyarakat dan dihargai prestasinya. “Hal ini agar olahraga cross tidak lagi dianggap sebagai olahraga liar melainkan olah raga yang punya ajang prestasi, serta harapan dari para crosser agar lokasi sirkuit tetap ada untuk latihan para crosser,” pungkasnya.(AND)


Fishing