Aneka

LSM PTII Gelar Dialog Meluruskan Demokrasi

Dialog Rakyat untuk Bangsa

Bandung (KaTer) - Mantan Gubernur Jabar, Dede Yusuf Macan Effendi yang kini nyaleg dari Partai Demokrat dapil Jawa Barat ll hadir di acara Dialog Rakyat untuk Bangsa, Jalan Lurus Demokrasi di Hotel Jayakarta Bandung (4/3/14). Dialog yang digagas LSM Public Trust Institute Indonesia (PTII), juga menghadirkan Budhiana Kartawijaya, Kepala Badan Perencanaan & Pengembangan Usaha Media Digital Harian Umum Pikiran Rakyat.

Budhiana menyoroti betapa pentingnya peran pers dewasa ini untuk mengawal demokrasi. Gunakanlah kecenderungan kini dan mendatang - inspiring journalism (jurnalisme yang menggugah).

”Mujur demokrasi di negeri kita setelah lepas dari jaman otoritarianisme (1998) tak seperti di Mesir atau Ukrania. Perkara masih ada yang bengkok-bengkok, wajarlah itu sebagai pembelajaran kita bersama,” kata Budhiana yang mengakui bahwa tingkat pendidikan penduduk di negeri kita yang masih relatif rendah menjadi penyebab demokrasi kita masih bengkok-bengkok.

Direktur Pengembangan Center Information Development Studies (CIDES), Hilmi Rahman Ibrahim mengamini agar demokrasi tidak bengkok-bengkok. “Marilah kita lebih dewasa berdemokrasi,” tegasnya.

Untuk itu kata Hilmi, dirinya menyarankan agar partai harus tetap melanjutkan talent scouting (pencarian bibit unggul) atas orang-orang yang mau berdemokrasi secara baik dan benar, masyarakat jangan sampai merasa takut berpolitik (secara santun/etis), menyesalkan kalangan muda khususnya, gara-gara banyaknya pejabat/public figure yang tersandung korupsi, membenci kehidupan politik.

Selain itu kata Hilmi, mencairkan suasana politik di dunia kampus (akademis), merevisi ketentuan NKK-BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus, Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang sepenuhnya belum tuntas. Menyebarkan paham bahwa politik (pembagian kekuasaan) itu amat dekat dengan policy (kebijakan).

'Bila dua hal ini bersanding dengan baik, akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan," ujarnya.

 Sementara, Dede Yusuf Macan Effendi mengungkapkan, demokrasi di Indonesia tidak lurus-lurus amat, mungkin saja banyak bengkoknya. “Oleh karena itu kita berdiskusi untuk meluruskannya bersama insan pers,” kata Dede.

Terkait dynasty politik sambung Dede, Ia tidak menafikan gejala ini ada juga di negara lain seperti di negeri Paman Sam, keluarga Kennedy dan Bush. Yang ditakutkan, kebijakan politik ini bila ada di dinasti politik, dilakukan di tempat tidur atau di meja makan.

“Hal seperti ini yang tidak boleh. Makanya kita harus berpolitik secara etis dan santun, serta tidak menutup warga lain untuk berperan serta,” terangnya.

Terpisah, Eka Santosa (55), politisi Jabar yang kini menjabat Ketua DPW Partai NasDem Jabar mengungkapkan, perihal masih bengkoknya demokrasi di negeri ini, karena sudah banyak pihak melupakan hakikat demokrasi itu sendiri. Demokrasi itu alat untuk memakmurkan rakyat. Musyawarah dan mufakat seperti tertuang di sila ke-4 Pancasila, sering dibaikan.

“Ini demokrasi yang berbasis adat dan budaya Indonesia. Inilah yang harus kita kembangkan,” ucapnya.(HS)


Fishing