Aneka

Hidroponik, Alternatif Bertanam di Lahan Sempit

Hidroponik, Alternatif Bertanam di Lahan Sempit

Bandung (KaTer) - Anda tinggal di perkotaan berlahan sempit? Kalau ya, inilah saatnya menyalurkan hobi bercocok tanam. Sedikitnya, mengingatkan saat masih tinggal di pedesaan dulu. Ya, itu bagi orang kota yang dulu tinggal di pedesaan. Nah, bagi orang kota ‘pituin’ (aseli) tentu ini pun sungguh menggiurkan tawarannya. Niscaya, akan menghadapi tantangan tersendiri lho?! Boleh dicoba, mumpung masih hangat, pameran Bunga dan Tanaman Hias di Taman Kandaga Puspa yang berlangsung di belakang Gedung Sate Bandung.

Taman ini, gara-gara Walikota, Ridwan Kamil, jadi cantik campernik bisa dipakai pameran segala. Padahal sebelumnya, cukup kotor dan kurang menarik. Kali ini Anda kami bawa pada dua stand dari puluhan yang ada disana. Yang pertama, vertikultur. Ini pola tanam buah dan tanaman hias yang dipasang secara vertikal.

“Medianya, cukup seuprit tanah di lahan sempit. Mau buat hobi atau usaha kecil-kecilan pun bisa”, kata Wahyudin, yang sukses dengan kebun Begonia di Lembang ke arah Maribaya sana.

Yang rame dan cukup banyak dikunjungi, stand City Orchid Green House. Jualannya, selain anggrek bulan, denrobium, vanda, oncidium, ada aneka pupuk dan pot keramik. Disini ada seperangkat hidroponik yang inovatif namun sederhana dan mudah dirangkai. “Saya membuatnya cukup 2 hari dari paralon yang banyak di toko bangunan atau dari barang bekas. Tanaman hias maupun buah bisa ditanam disini. Hanya pakai air dan sedikit media rockwool buatan Jerman,” urai Tavip Ambardi, lulusan FISIP UNPAD Prodi Antropologi tahun 1990-an.

Sisi unik lain Tavip, ternyata ia pernah menjadi peserta AOTS (Association for Overseas Technical Scholarship) di Jepang pada tahun 1990-an kala menjadi mahasiswa. “Pulang dari Jepang usai lulus kuliah, buka bengkel teknik bersama teman. Ditambah 8 tahun berhobi anggrek. Akhirnya, hidroponik dan anggrek bersanding sampai sekarang”, tambahnya yang tak sadar ia mengagumi gaya hidup orang Jepang yang serba efesien.

Menurut Tavip, model paralon hidroponik buatannya, hanya butuh tenaga listrik 15 watt, sebagai penyalur air dan pupuk, juga membasahi rockwool. “Bersyukur, kini di Bandung banyak sekolah memanggil saya untuk menjelaskan hal ini. Apa, mengapa dan bagaimana keunggulan tanaman hidroponik,” katanya kepada KaTer, Jum’at (14/3/2014).

Di stand Tavip, pengunjung bisa bebas bertanya, malahan berdiskusi “ngalor-ngidul” bagaimana memulai hobi ini. Sediaan aneka bibit dan hasil hidroponik, pun pupuk tersedia dengan harga terjangkau. “Saya jadi malu, sebagai mahasiswa pertanian, soal ini harus tanya ke Pak Tavip. Di kampus belajar hidroponik melulu hanya dari text book, tak ada laboratorium. Padahal kita kan negara agraris ya?”, celoteh seorang mahasiswa pengunjungnya sambil sesudahnya memborong pernak-pernik hidroponik. Saya mau tanam ini di Jawa Timur,” kata mahasiswa ini dengan sumringah.

Masih di stand Tavid, pengunjung diajarkan cara memulai kegiatan hidroponik secara sederhana hingga yang canggih kelas green house atau nursery profesional. “Nah kalau jadi pemasok super market, ada kiatnya. Tapi tak jauh beda. Yang penting ada hasrat cinta tanaman”, jelasnya menebar tips jitu bercocok tanam ala hidroponik.

Nah, Anda tertarik, pelajarilah soal hidroponik dan vertikultur lebih serius. Malu dong, dari dulu disebut negeriagraris, soal hidroponik saja tak begitu paham. Tak salah kalau kita ini suka disebut negeri bahari, karena memang hanya warteg bahari yang banyak bertebaran koq.(Harri Safiari)


Fishing