Bandung (KaTer) - Usai testimoni yang sempat bersuasana panas saat LSM CADAS yang membawa jampana dengan model Hotel Pullman berisikan kata-kata sindirian pedas atas kebijakan Gubernur Jabar, akhirnya hadir walikota Bandung, Ridwan Kamil, Minggu (27/4/2014) .
Dalam sambutannya, Walikota Bandung, Ridwan Kamil mengatakan, di Bandung ini ada sekitar 4.000 komunitas. Permasalahan kota Bandung begitu kompleks. Mustahil Pemkot bisa memecahkannya. Salah satu solusinya, melibatkan sebanyak mungkin warga Bandung untuk memecahkan masalah perkotaan, sesuai minatnya.
“Program Jagaseke, sudah saya rasakan langsung. Baru-baru ini, seke Genjer di Cigadung tempat saya bermain kala usia kanak-kanak, sekarang masih ada dan terselamatkan. Airnya masih bisa dipakai oleh warga setempat,” katanya.
Lebih jauh Ridwan Kamil mengungkapkan, Ia masih teringat saat main di seke Genjer, Ia suka bersembunyi dari kejaran petani, karena suka memetik tanaman kangkung. Kala itu, dirinya menyangka tanamahn itu sebagai tanaman liar, padahal itu adalah tanaman yang biasa dimakan.
“Apresiasi saya ucapkan tinggi-tinggi kepada relawan yang selama ini giat mencari dan menyibak seke-seke yang sudah banyak dilupakan orang,” ujarnya.
Sementara, mantan gubernur Jabar, Mang Ihin dalam sambutannya mengatakan, Ia menitipkan kepada generasi muda, agar menjaga lingkungan hidup. Seke-nya jangan dirusak. Dulu perjuangan itu sampai titik darah yang terakhir. Ayo teruskan perjuangan kalian menghidupkan lagi seke.
“Menjadi pemimpin apa pun jangan melupakan kepentingan rakyat. Begitu juga kepada rakyatnya, kalau ada masalah coba kemukakan saja apa adanya. Kalian harus saling terbuka,” kata mang Ihin menjelaskan.
Ditempat yang sama, koordinator Panitia dari pihak DPKLTS, M Taufan Suranto, menyatakan, dalam waktu dekat akan diumumkan 5 orang anggota formatur untuk menyusun AD/ART dari komunitas Jagaseke. Maksudnya, agar keberadaannya memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat.
“Dalam setahun perjalanan komunitas ini, sudah banyak kemajuan. Paling tidak untuk kota Bandung sudah diadopsi programnya oleh walikota. Bukan tidak mungkin untuk tingkat Jabar pun gerakan ini akan dilakukan. Sudah banyak beberapa daerah di Jabar yang meminta DPKLTS untuk melakukan pendampingan soal seke yang ada di beberapa daerah,” terangnya.
Diakhir acara, meski diguyur hujan lebat, ratusan pengunjung memotong tumpeng dari jampana yang tadi diarak peserta. “Ini namanya botram (makan bersama ala Sunda),” kata Irna (32) seorang ibu kepada anaknya yang masih berusia SD. Group seni tradisi yang menghibur saat itu ada Barong dan Rudat dari Sekeloa Bandung. Seni tradisi ini tumbuh sekitar tahun 1945-an. Dahulu Barong dan Rudat, biasa dipakai untuk acara adat Meungkat Cai (Menyambut Air – kalau sekarang popular sholat istisqo).
“Dari Sekeloa, ketika musim kemarau, Barong dan Rudat diajak pergi ke Gunung Kasur di Bandung Utara. Uniknya, saat rombongan pulang dari Gunung Kasur pasti ke rumah dalam keadaan basah kuyup”, jelas Samas Sekeloa haeri (50), Ketua RW 03 Sekeloa Timur Bandung. (Harri Safiari)