Bandung (KaTer) - Telusur dan kontemplasi perupa ‘Namaksara – manusia pengolah aksara” Eddy Susanto (39), seniman yang lebih betah tinggal di Yogyakarta dengan pola hidup bersahaja, sungguh mengguncang pesona. “Saya ingin berbincang dengannya”, lontaran spontan pengunjung acap bersliweran kala pembukaan pamerannya.
Nyatanya, orang yang diebut-sebut, takkan pernah muncul dalam sebuah pameran karyanya. Akhir-akhir ini, memang penuh misteri dan eksentrik, kata banyak orang tentang Eddy Susanto ini. Nyatanya, ia kerap merasa tersiksa bila hadir di arena publik dengan karyanya. “Pengerjaan karyanya bersifat Kamasan, melibatkan orang sekampungnya. Pandangannya terbalik malah dalam hal hak patent, tak seperti di Barat. Karyanya relatif bersifat komunal,” papar Andonowati, Direktur Lawangwangi Creative Space , yang membandrol masing-masing 20 karya ini @ Rp. 99 juta. “Ini angka penuh mukzizat,” urainya.
Nama Eddy Susanto, di kalangan kolektor lukisan ASEAN dan Singapura, kerap disandingkan dengan Eko Nugroho, Agus Suwage, Nyoman Masriadi, Heri Dono, Dipo Andy, Dadi Setiyadi, Jompet Kuswidayanto, Krisna Murti, dan seniman muda lainnya yang berkiprah sukses di luar Indonesia.
“Optimis karya yang kuat ini akan jadi buruan kolektor” tambah Andonowati yang sibuk melayani pertanyaan puluhan pewarta akan kandungan karya yang pamerannya bertajuk The Passage of Panji; Memory, journey and desire” (1 – 18 Mei 2014).
Selain harga dan acap ketidakhadiran Eddy Susanto yang selalu jadi bahan pertanyaan, tentu mutu karya ini. Kandungan seninya tiada duanya – Eddy Susanto seakan menjelujur lukisan modern Kamasan Bali dari aksara tradisional jawa di bidang kanvas, lalu menyandingkannya dengan epos dunia.
Dua puluh karya ini dapat dinikmati melalui dua cara : pencahayaan umum (standar museum) , dan lampu ultraviolet. Gambarnya, berbeda. “Cahaya biasa ada gambar Panji versi Kamasaan Bali dan lukisan klasik Eropa”, kata Destrini (24), pengunjung asal Jakarta yang terkagum-kagum akan penemuan ini. Mumpung masih lama, sebaiknya hadir disana segera. Niscaya, banyak kejutan baru dari perupa Indonesia yang mampu berbicara di kancah dunia.
“Jadi pengen bawa rekan se kantor kesini”, tutur Suprapto (46), pegawai swasta di Bandung yang sedang merintis jadi kolektor lukisan secara serius. Percayalah, takaran Anda bila hadir di galeri yang ada di sebuah bukit tertata apik, baru terasa – ada karya anak bangsa yang bisa menghujam dunia selain Sudjoyono dan Raden Saleh yang legendaris itu. (Harri Safiari) .