Kuningan Terkini - “Kami ucapkan terima kasih atas bantuan LSM CADAS. Apalagi tadi Sarah sempat dipertemukan dengan Pak Hikmat, Dirut RS Mata Cicendo, juga dengan petinggi Bank Mandiri. Semoga kacamata kedua ini bisa membantu penglihatan Sarah. Kami tunggu Pak kacamatanya kalau sudah selesai, kabari ya?”, demikian ucap Ee pengantar keluarga Sarah ketika berpisah dengan LSM CADAS pada sore hari, 2 September 2014.
Sore itu, usai Sarah diperiksa matanya, ternyata bisa langsung kembali ke Pangandaran. Menurut tim dokter mata di RS Mata Cicendo, kacamata kedua diperkirakan selesai dibuat sekitar seminggu atau sepuluh hari kemudian. Di bagian optik RS Mata Cicendo, Sarah usai diperiksa matanya sempat mengepas bingkai kacamata yang akan dipakai kelak. Seperti biasanya, kehadiran Sarah selalu mengundang perhatian orang yang mengetahui kisahnya, termasuk kala di bagian optik RS Mata Cicendo. Öh, Sarah sudah besar sekarang. Saya kebetulan tahu dari TV ”, seru salah satu pengunjung RS Mata Cicendo asal Kabupaten Kuningan Jawa Barat.
“Kacamata kedua ini semoga bisa sedikit mengurangi rasa pening saat memakai kacamata pertama. Daya jangkau mata kanan maksimal 4 meter, yang kiri 6 meter, ini umum untuk penyandang low vision. Catatannya, 8 bulan lagi harus ada penyesuaian, dan rutin diperiksa”, kata dr. Astri Avianty dari bagian optik RS Mata Cicendo.
Menariknya, selama pemeriksaannya kali ini selain sempat dipertemukan langsung dengan Dirut RS Mata Cicendo, Dr Hikmat Wangsaatmaja, SpM (K),M. Kes, M.M, selaku penyumbang kacamata pertama dan kedua termasuk pemeriksaan selama ini, juga dipertemukan dengan tamu khusus lembaga kesehatan mata yang sudah berusia lebih dari satu abad. Tak lain tamu khusus itu Ka Kanwil 6 Bandung PT. Bank Mandiri (persero) Tbk, Iman Gunawan.
”Sudah lama dengar kisah bocah ajaib yang selamat dari tsunami Pangandaran. Bersyukur, kita dipertemukan. Semoga matanya tambah sehat ya setelah diperiksa tim dokter Pak Hikmat”, sapa Iman Gunawan kepada Sarah di lobby RS Mata Cicendo.
Uniknya, pertemuan ini berlangsung di lobby yang berfasilitas sajian musik live piano. Sesekali perhatian Sarah terbelah antara denting lembut piano yang mengalunkan tembang legendaris 'My Way' dengan sesi 'pertemuan istimewa' kali itu.
Menurut salah satustafnya, kehadiran Gunawan pada hari itu, lembaga keuangan yang dipimpinnya memberikan sumbangan dana untuk memperlancar kinerja RS Mata Cicendo.
”Kesehatan mata itu penting. Saya terkesan dengan perjuangan para dokter disini yang selalu bersemangat, diantaranya pantang menyerah mengobati penderita katarak di pelosok Nusantara. Sumbangan kami ini kecil saja”, tambahnya low profile sambil membelai rambut bocah ajaib Sarah Tsunami.
Puyeng Hilang, Membaca Lancar Bagi LSM CADAS dan RS Mata Cicendo, sejatinya tiada yang lebih menggembirakan kala mendengar telepon dari Pangandaran pada 18 September 2014 lalu. Kejadiannya, Juju kali ini minta di telepon balik seperti biasanya. Menurut Nurhadi, tepatnya pada 16 September 2014 Sarah telah diterima secara resmi oleh Plt Bupati Pangandaram di gedung Desa Cintaratu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.
“Pak Bupati memberikan kacamata buat sarah di gedung, disaksikan banyak orang katanya, kan saya mah tak bisa lihat. Sarah sekarang menulis sudah agak bagus di sekolah, itu kata Pak Ee gurunya. Tulisan Sarah tak besar-besar lagi. Puyengnya, mulai hilang. Katakan terima kasih atas kacamatanya ke Cicendo”, lagi-lagi Nurhadi menirukan suara Juju.
Menurut Nurhadi, kacamata kedua ini memang dikirim ke alamat Plt Bupati Pangandaran, bukan ke alamat rumah Sarah seperti biasanya. Tujuannya, agar keberadaan warganya yang memiliki keterbatasan semakin diketahui oleh pimpinan setempat. “Tercapailah salah satu tahapan buat Sarah Tsunami. Bila pun terjadi pergantian kepemimpinan di Kabupaten Pangandaran, kepedulian terhadap kalangan yang layak dibantu di daerah sana tetap berlangsung”, harap Nurhadi yang dalam waktu empat tahun terakhir telah memimpin ratusan mantan preman melalui LSM CADAS. Sekedar info, LSM CADAS ini termasuk keukeuh dan independen memperjuangkan hak sipil dan lingkungan hidup dengan caranya sendiri.
Harian KOMPAS yang telah mengupas sebagian kiprahnya, menyebut para pengurus dan anggota yang mayoritas mantan preman Cicadas Bandung sebagai sekumpulan preman babalik pikir! “Beginilah adanya, Sarah ini hanya sedikit yang bisa kami bantu sesuai kemampuan. Mendengar ia bisa kembali lancar membaca buku berkat pemeriksaan dan sumbangan kacamata dari Cicendo, itu sudah sangat menggembirakan”, ujar Nurhadi yang punya hobi memelihara burung berkicau.
“Sisa hidup kami hanya ingin diisi oleh kebaikan yang kami bisa dan mampu saja, walaupun hanya sekedarnya”, tutup Nurhadi yang diamini Nurharto, Ketua DPW LSM CADAS, rekan sejawatnya yang berprofesi sebagai pengacara di Bandung. (Harri Safiari)