Aneka

Sarah Tsunami Berobat ke RS Mata Cicendo

Sarah Tsunami saat diperiksa matanya di RS Cicendo Bandung.

Bandung (KaTer) - Masih ingat siapa Sarah Tsunami? Tepatnya pada 17 Juli 2006 pukul 16.00 WIB, pantai Pangandaran kala itu disapu tsunami dahsyat menyusul gempa sekitar 7,7 skala richter. Ombak ganas setinggi 10 meter lebih menyapu apa pun yang ada di sekitar pantai hingga beratus-ratus meter jauh dari pantai yang biasa menjadi destinasi wisata.

Diantara ratusan korban jiwa kala itu, ada keajaiban. Bayi Sarah Tsunami yang baru berusia satu hari, putri dari pasangan Utan (67) dan Juju Juariah (39) yang tuna netra sejak usia 9 tahun, terlepas dari gerusan tsunami. 1,5 jam seusai badai tsunami, penduduk pantai Parigi, Sali menemukan sesosok bayi Sarah Tsunami yang masih membawa ari-ari diantara tumpukan ‘sampah’ efek tsunami dan langsung dilarikan ke RS Banjar.

Singkat cerita, beberapa hari setelah peristiwa tsunami ganas, pasangan Utan dan Juju yang berputrikan Sarah Tsunami beserta Supri (10) kakak tirinya dari lain bapak, utuh kembali. Selama ini mereka tinggal di daerah pedesaan, tepatnya di Dusun Bantarsari Desa Bojong Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran. Sehari-hari Utan bekerja sebagai petani sederhana, dan sebelum peritiwa tsunami Juju bekerja sebagai tukang pijat.

Saat ini, Sarah Tsunami mengeluhkan matanya yang terkendala dalam satu tahun terakhir. Didampingi Nurhadi dari LSM CADAS (Ciri Aspirasi Dari Abdi Sanagara) Bandung, Sarah Tsunami bersama ibunya serta kakanya, Supri mendatangi RS Cicendo untuk memeriksakan matanya, Senin (16/12/2013).

“Tunggu sepuluh hari lagi. Penglihatan Sarah mudah-mudahan akan lebih baik lagi”, kata Direktur Pusat Mata Nasional (PMN) RS Mata Cicendo, dr. Hikmat Wangsaatmaja, SpM(K), M. Kes, M.M, sesaat ia mengetahui hasil diagnose dari para dokternya.

Sementara, menurut dokter mata yang membawahi bagian Refraksi Anak juga Strabismus & Pediatrik Oftalmologi, pemakaian kacamata bagi Sarah, merupakan hasil rundingan antara tim dokter RS Mata Cicendo dengan ibunya sarah, Juju. Bisa saja dilakukan operasi, namun ibunya cenderung memilih Sarah memakai kacamata. “Akhirnya, kami mengikuti kemauan ibunya,” ucapnya.

Lain halnya dengan Sarah yang masih bisa menggunakan kacamata, Ibunya Sarah, Juju sudah mengalami kehilangan pengihatan secara permanen. Ia pasrah, harapannya untuk melihat rupa anaknya sudah tertutup.

“Kalau hasil pemeriksaan saya sudah demikian, pasrah sajalah. Hanya Sarah, jangan seperti saya tuna netra. Dokter disini semua baik sama kami, tolong ya ucapkan terima kasih buat mereka. Bayarnya berapa ya?”, kata Juju dengan polos.

Soal bayaran pemeriksaan mata ini, bisa dibilang gratis berkat pola pertanggungan Ban Gub alias Bantuan Gubernur yang diurus LSM CADAS dengan jaringannya. “Kata dokter tadi, peluang ibunya untuk bisa melihat walaupun sedikit sudah tertutup. Penyebabnya karena ia menderita penyakit mata sudah terlalu lama,” tutur Nurhadi yang seharian mengantar Juju mengetes kemungkinan pemulihan daya lihatnya.(HS)


Fishing