Aneka

Petinggi Jabar Berpandangan Sempit?

Ketua Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum, Eka Santosa saat diwawancara sejumlah wartawan.

Bandung (KaTer) - Selain mengeluarkan 10 rekomendasi, dalam jumpa pers Ketua Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum, Eka Santosa dengan 45 pewarta elektronik dan cetak di RM Riung Sari, Bandung, Kamis (30/1/2014) melebar kesegala arah. Berbagai kritikan tajam dilontarkan kepada para petinggi Jabar yang saat ini rata-rata berpandangan sempit.

“Materinya berdimensi luas. Namun muaranya, tetaplah di kebijakan para petinggi Jabar yang saat ini rata-rata berpandangan sempit,” kata Effendi yang mengaku sebagai pegiat dari Jaringan Curug Jompong, Kabupaten Bandung Barat.

Pendekatan budaya kata Effendi yang juga sebagai Pangaping BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar, haruslah dijadikan landasan, bukan semata atas dasar kepentingan teknokrat, apalagi berbalut birokrasi yang kental unsur feodalismenya. “Dengarlah jeritan rakyat. Apa jadinya bila para olot (tetua adat-red.), marah,”, serunya.

Ketua Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum, Eka Santosa menyinggung sepintas keberadaan gedung DPRD Provinsi Jabar yang baru di Jl. Diponegoro. Menurutnya, gedung ini belum diresmikan tetapi sudah dipakai sejak pertengahan Agustus 2013. Dimata Eka, keberadaan gedung ini sarat dengan berbagai masalah.

“Pembangunannya satu hamparan dengan adanya mall dari Group Agung Podomoro. Ngerinya, tanah itu masih berstatus sengketa. Coba mau dikemanakan harga diri dan marwah rakyat Jabar. Disana itu mau bersidang memperjuangkan aspirasi rakyat Jabar atau mau belanja ke mall, nantinya," kata Eka setangah bertanya.

Selain itu, Eka juga sempat mengungkapkankisah nyata Sarah Tsunami (7), bocah ajaib yang selamat dari bencana tsunami Pangandaran 17 Juli 2006. Saat itu, Sarah masih berusia 24 jam yang terlepas dari gendongan ibunya yang tuna netra dan diterjang ombak stinggi 10 m!.

“Senin pagi kemarin, beberapa jam sebelum ia menerima bantuan kacamata dari RS Mata Cicendo, Sarah merengek ingin sekedar menginjakkan kakinya di halaman Gedung Sate dan gedung DPRD Provinsi Jabar. Saat tiba di gedung Sate, Sarah sempat diterima dengan sopan oleh seorang Satpam di halaman Gedung Sate Bandung,” ujarnya.

Namun ketika Sarah meminta ijin kepada Satpam untuk main dihalaman gedung Sate, yang didapat adalah penolakan. Alasan yang disampaikan Satpam karena disana banyak CCTV. Siapa pun dilarang memasuki halaman gedung, kecuali anggota dewan. Silahkan tafsirkan sendiri kejadian ini.

“Ini fakta loh. Gedung dewan kan gedung rakyat. Masa hanya menginjakkan kaki sebentar saja, koq tidak boleh. Sungguh aneh, kebijakan orang dewan jaman sekarang,” sindirnya.(HS)


Fishing