Aneka

Nobar bersama Wagub Jabar, Deddy Mizwar

Wagub Jabar, Deddy Mizwar

Bandung (KaTer) - Memacu Need for Achievement (N Ach.), kira-kira itulah benang merah film layar lebar teranyar keinginan untuk berprestasi. Bagi anak-anak dan remaja di kota besar, film ini bisa menjadi obat ces pleng, daripada keluyuran atau sekedar nongkrong, segeralah menonton film based on true story atau 12 Menit untuk Selamanya.

“Jadi kepikiran, kalau mau sukses di bidang apa pun harus kuat lahir bathin, ya? Kayak merekalah," kata seorang pelajar SMA di Bandung ke rekan-rekannya.

Obrolan itu spontan banget, lamat-lamat terdengar saat bubaran di lorong gedung bioskop, Selasa (3/2/2014). Betapa tidak, mereka tampaknya terhanyut oleh kekukuhan Rene (Titi Rajo Bintang), pelatih marching band di Kota Bontang (Kaltim). Ia membawahi 130 anggota plus staf, berbulan-bulan melatih, hanya untuk tampil 12 menit saja di ajang nasional di Jakarta.

Sejumlah konflik berkelindan, ada Lahang (Hudri), pemuda suku Dayak, dan Tara (Arum Sekarwangi), yang punya perasaan dibuang orang tuanya. Nasib Tara, harus hidup bersama Opa (Didi Petet) dan Omanya di Bontang. Hebatnya lagi, Elaine (Amanda Sutanto), anak pindahan dari Jakarta karena pekerjaan ayahnya. Higoshi (Nobuyuki Suzuki) mendidik putri satu-satunya layaknya keluarga Jepang, berdisiplin ketat, pengembangan akademis nomor satu, ekstra kurikuler marching band, nomor berapa gituh. Hanya ibu Elaine (Olga Lydia) yang bisa paham kemauannya.

Konflik makin membuncah tatkala tangan besi Rene dihadapkan pada kenyataan diantara 130 anak buahnya ada yang menggantang masalah. Tara, sempat mundur dari grup, ngambek karena ada ketidakcocokan dengan pola latihan yang super ketat dari Rene.

Menjelang keberangkatan ke Jakarta, justru Elaine sebagai field commander, sempat mengucapkan sayonara pada grupnya. Pasalnya, ia harus mengikuti keinginan ayahnya mengikuti olympiade fisika, mewakili sekolahnya. Pilihan Elaine dilematis, sama-sama prestisius.

Lahang yang bersuku Dayak, sejak awal sudah tampak punya kendala kesenjangan adat, budaya, dan ekonomi dengan mayoritas anggota grup-nya. Berkat, dorongan ayahnya yang sakit-sakitan, pada menit-menit terakhir setelah beberapa kali terkendala mengikuti latihan, bergabung juga ke Jakarta.

Alhasil berbagai batu sandungan bagi Rene dan anak buahnya, datang dari mana-mana. Namanya juga perjuangan mencapai keberhasilan, ujung-ujungnya film yang diangkat dari novel ini bermuara pada happy ending yang relatif manis.(HS)


Fishing