Kuningan (KaTer) - Kabupaten Kuningan kehilangan sosok aktivis yang dikenal sangat dekat dengan para ulama maupun habaib juga masyarakat, H Ukar Abu Bakar (53). Ketua Umum Komponen Pergerakan Islam (KPI) Ciayumajakuning yang akrab dipanggil Komandan Ukar menghembuskan nafas terakhirnya di kediaman orang tuanya di desa Cidahu (12/02/2014) pukul 13.30 WIB.
Sebelum tutup usia, Komandan Ukar dirawat di Rumah Sakit secara intensif selama kurang lebih 1 bulan. Jenazah almarhum dikebumikan di makam keluarga, di desa Cieurih, Kecamatan Cidahu, Kamis (13/02/2014) pukul 8.00 WIB. Prosesi pemakaman yang dipimpin langsung oleh kasepuhan Cirebon Al Habib Abdurrohman didampingi Habib Syeh untuk pembacaan Talqin nya, dihadiri oleh ribuan pelayat, mulai dari masyarakat umum, santri, para ulama dan habib, pejabat pemda, kepolisian, TNI, kejaksaan serta pengadilan.
Pria kelahiran tahun 1961 ini mengawali kariernya sebagai karyawan bus dan pada akhirnya dipercaya memegang 12 armada bus Setia Negara dengan nama Rengganis jalur trayek Kuningan - Jakarta lewat timur. Masa muda Komandan Ukar dikenal sosok yang keras dan pantang menyerah. Disepanjang jalur pantura, orang-orang jalanan (preman) sangat mengenal sosok Komandan Ukar dengan julukan kecil-kecil kuda Kuningan.
Takdir Allah SWT hidayah tidak bisa dielakan, pada tahun 1997 sosok komandan Ukar berubah 180 derajat, Gamis Putih dan Sorban kini membalut tubuhnya yang bertato. Rutin setiap malam jum'at rumahnya penuh dengan santri dari mana-mana datang, ratib hadad dan barjanji untuk memulyakan Rosulullah bergema di rumah kediamannya setiap malam tersebut. Keras dan tegas karakter komandan Ukar tidak berubah, hanya saja kalau dulu keras melakukan kemaksiatan, namun sekarang keras memerangi kemaksiatan.
Didukung para ulama dan habib serta pondok pesantren, komandan Ukar mulai melaksanakan Amar ma'ruf Nahyi Munkar dengan segala keterbatasannya. Bendera Komponen Pergerakan Islam (KPI) dikibarkan dan dideklarasikan pada tahun 2009. Pembentukan KPI ini, diharapkan sebagai pemersatu umat Islam dalam memerangi kemunkaran di Kabupaten Kuningan khususnya dan di Ciayumajakuning pada umumnya.
Aktifitas menutup warung-warung penjual miras, menutup tempat-tempat perjudian dan secara exsis melakukan teguran kepada warung-warung yang buka pada siang hari di bulan Ramadhan, ini rutin dilakukan KPI. Selain itu, KPI tidak pernah absen dalam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan umat maupun agama.
"Insya Allah saya menyaksikan di masa hidupnya, Komandan Ukar adalah sosok yang tangguh, luarbiasa straggle dalam perjuangan Nahyimunkar. Hari-harinya dikelilingi masyarakat yang meminta bantuan dengan tanpa pamrih. Sangat wajar ketika masyarakat banyak yang kehilangan sosok beliau saat ini," papar sahabat dekatnya H Nana Mulyana Latif, sekjen PEKAT IB Kuningan, Jum’at (14/2/2014).
Komandan Ukar kata Nana, banyak mewarnai perjuangan umat. Daerah yang dikenal 'Nagara Beling' diwilayah timur Kuningan, secara perlahan tapi pasti akhirnya berubah, wilayah basis prostitusi dan miras dibabad habis, ini sungguh luar biasa. Kalau tidak memiliki mental Lillah (hanya karena Allah), tidak mungkin beliau seberani ini," kenang Nana.
Komandan Ukar Abu Bakar kini tinggal kenangan, beliau meninggalkan 2 orang istri dan 7 orang anak (4 perempuan dan 3 laki-laki). Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT digolongkan khusnulkhotimah dan dibariskan pada shaff para syuhada Amin yaa mujibassailin.(Nana M)