Kuningan Terkini - Mencuatnya isu yang menyudutkan anggota parlemen soal dugaan oknum wakil rakyat berbuat maksiat di Gedung DPRD Kabupaten Kuningan, mendapat reaksi keras dari sejumlah anggota dewan. Akibat isu tersebut, para wakil rakyat merasa dirugikan, karena mencoreng nama baik kelembagaan sekaligus pribadi anggota dewan.
“Ini lembaga terhormat, siapa lagi yang menjaganya kalau bukan kita sebagai masyarakatnya sendiri. Ini Koran dibaca di wilayah III, DPRD Kuningan seolah-olah tidak punya marwah. Saya sekali lagi atas nama pribadi, atas nama Komisi I, ini sekali lagi mencoreng. Janganlah ada statemen-statemen begitu,” kata salah seorang anggota Fraksi PKS, Rudi O’ang Ramdani ditemani anggota dewan lainnya. Hj Kokom Komariyah, Herawati, Titi H Norbandah, Dede Sudrajat, Kamis (1/9/2015).
Dirinya mengingatkan, hiburan itu jangan ditafsirkan terlalu jauh. Pada saat itu memang anggota yang hadir ada sekitar 20 orang, seperti dari kawan-kawan di PDIP, Demokrat, dan lainnya kecuali Gerindra saat itu sedang ke Hambalang.
“Cuma memang mayoritas dari kawan-kawan kita, memang mereka senang hiburan, saya juga senang dengan hiburan, saya senang dengan live music, saya nikmati juga, cuman kalau misalkan digeneralisir dewan melakukan maksiat di malam 17 Agustus itu sangat disayangkan,” tandasnya.
Pihaknya mengaku, bagaimanapun juga para wakil rakyat masih menghargai hasil perjuangan dari para pejuang dan pahlawan bangsa. “Kita itu relaks di ruang paripurna, yang biasanya tegang bahkan kita berbeda pendapat dalam bersuara. Hanya malam itu kok, tidak tiap malam. Ketua juga ada, Wabup ada. Saya juga termasuk yang hadir sampai jam 11 pulang dengan Pak Wabup,” katanya.
Ketika waktu menunjukan pukul 23.00 WIB malam, Ia bersama bupati dan rombongan lainnya pulang. Setelah itu, dirinya tidak tahu. “Kalau jam sebelas kesini, saya yakin tidak ada yang macam-macam. Gak mungkin juga ketika kita pulang acara berhenti lho,” terangnya.
Soal isu kemaksiatan, pihaknya menilai hal itu sudah terlalu jauh. Kemaksiatan apa yang dilakukan. Yang jelas sekali lagi, lembaga ini adalah gerbang aspirasi masyarakat. Kalau lembaganya dinistakan, pertanyaannya masyarakat mau ke siapa. “Jangan ditafsirkan wakil rakyat tidak aspiratif,” ujarnya.(AND)