Kuningan (KaTer) - Daya tampung air Waduk Darma saat ini mengalami penurunan. Hal ini akibat adanya pendangkalan dasar danau di musim hujan. Daya tampung waduk yang biasanya mencapai 90 juta Meter Kubik, namun karena terjadi proses sedimentasi kini hanya berkisar antara 35 sampai 40 juta meter kubik.
"Dulu sih ketika waduk kering ada jurang-jurang bekas sawah, sekarang landai saja dasarnya. Dapat dirasakan jika kami menanam jangkar perahu kebawah air tak pernah nyangkut, ini menandakan adanya sedimentasi," Ujar Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Perairan Umum Jawa Barat, Umar Hidayat, Senin (20/1/2014).
Menurut Umar, kedalaman Waduk Darma yang dibangun pemerintah kolonial Belanda dan Jepang Tahun 1948 itu kedalaman 12 hingga 17 meter. Akibat terjadi proses sedimentasi, jika selama tiga bulan kedepan hujan terus mengguyur di kawasan waduk darma, diperkirakan air akan cepat meluap hingga bibir bendungan.
"Kami akan mengajukan ke pemerintah provinsi dan Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWS Cimcis) untuk melakukan pengerukan Waduk Darma di musim kemarau taun ini," ujar Umar yang juga menjabat sebagai Kuwu Jagara, Darma.
Dikatakannya, sebelum berubah menjadi bendungan, kawasan ini merupakan tanah bengkok para kepala desa dan aparat desa meliputi Desa Darma, Jagara, Sakerta Barat, Sakerta Timur, Paninggaran serta desa Cipasung hingga seluruhnya seluas 427 hektare. Semula, kawasan waduk menampung air sampai 42 juta meter kubik untuk mengairi irigasi seluas 22.060 hektare. Diantaranya, pesawahan di Kuningan dan perkebunan tebu di Cirebon hingga Brebes Jawa Tengah.
"Sedikitnya ada 740 petani jaring apung di perairan Waduk Darma, di bulan ini harga ikan sedang naik hingga Rp. 22.000 per kilogram nya," katanya.
Sementara, Tim Teknis Konsultan Perencana Bidang Sumber Air Kuningan, Adi Purwosasmito mengatakan, adanya sedimentasi karena perubahan tata guna lahan di hulu sungai. Semestinya dilakukan survey ke titik hulu sungai yang masuk ke daerah waduk. Apakah sedimen dari aliran air sungai itu besar atau sebaliknya yakni dari sungai yang mengalir ke waduk.
"Lihat juga erosi di sungai tersebut, apakah banyak terjadi perubahan tata guna lahan yang tadinya hutan jadi perkebunan atau pemukiman. Karena hal itu salah satu penyebab terjadinya proses sedimentasi," pungkasnya.(AND)