Kuningan Terkini - Kendati perayaan Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kuningan masih cukup lama, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan yang dikomandoi Wawan Setiawan, S.Hut, MT, sejak dini telah melaksanakan persiapan memperingati hari besar tersebut. Salah satunya, melakukan pengecetan ulang Tugu Bokor di bundaran Cijoho serta area taman pandapa sebrang Pendopo Setda Kuningan.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, Tugu Bokor yang dibangun sejak kepemimpinan H. Aang Hamid Suganda, keadaannya cukup memperihatinkan. Cat dan bagian-bagian tertentu yang menggunakan semen sudah mengelupas serta berubah warna dari warna emas menjadi ‘koleas’. Bahkan Bokornyapun dibeberapa sudut mulai menghitam terkena jamur.
Namun, beberapa hari yang lalu, tugu tersebut terlihat sudah kembali ke warna semula, warna emas alias ‘herang boncenang’. Hal ini membuat pengguna jalan dari arah Cirendang, Ancaran, Purwawinangun maupun Jananuraga terkesima akan keindahan tugu Bokor yang bermandikan warna kuning. Sehingga mengundang decak kagum akan keindahannya.
Kadis Lingkungan Hidup Kuningan, Wawan Setiawan, S.Hut, MT saat dikonfirmasi Kuningan Terkini, Rabu (15/07/2020) mengatakan, salah satu tugas pokok dinas yang dipimpinnya, adalah melaksanakan perawatan pertamanan. Sementara yang rutin dikerjakan, seperti persampahan berjalan secara reguler.
Menurutnya, cukup banyak pertamanan yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup. Hanya saja, saat pandemi Covid 19, kurang mendapat perhatian. Karena semua elemen di DLH fokus membantu Gugus Tugas Covid 19. Setelah agak mereda, baru kami melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang lain.
“Kenapa beberesih, dimulai dari tugu Bokor dan Pandapa? Kita memiliki alasan tersendiri. Bokor memiliki nilai tinggi dalam sejarah peradaban Kuningan, termasuk pandapa. Nilai-nilai itu mempengaruhi juga dalam lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara di Kuningan,” terang Wawan.
Tata nilai itu kata Wawan, harus dilestarikan secara paripurna. Bukan semata-mata tugu dan bokor yang terbuat dari kuningan yang sekarang dipajang. Melihat Bokor dan Pandapa sama artinya mengajak untuk memandang masa lalu dan menatap masa depan Kuningan. “Sama seperti lampu mobil depan dan lampu mobil belakang,” tuturnya berfilsapat.
Kemudian masih kata Wawan, apa kaitannya antara Bokor, Pandapa dengan Dinas Lingkungan Hidup di masa sekarang? Justru sangat berkaitan erat. Yaitu, sistem kebaruan pemerintahan dari semula Kuningan adalah kerajaan menjadi Keadipatian dan kabupaten yang diresmikan oleh Pemerintahan Belanda.
Namanya sistem pemerintahan sambungnya, tentu ada sangkut pautnya dari sistem tata negara. Jika Bokor adalah simbol pemerintahan baru. Maka pandapa adalah bentuk dari tata cara pemerintahan itu sendiri. Dimana masyarakat memberikan kepercayaan kepada pemimpinnya melalui seba atawa saptuan (kemudian menjadi sapton-red).
“Sama artinya, Dinas Lingkungan Hidup sebagai penjaga dan perawat tata nilai yang sudah terbangun melalui simbol-simbol yang ada. Bukan berarti seluruh kebudayaan, sebab lingkungan hidup merupakan bagian kecil dari sistem kebudayaan secara universal. Saya sambil contoh, baju merupakan bagian dari kebudayaan peradaban,” ucapnya.
Taman, tugu dan kebersihan terangnya, merupakan bagian kecil dari kebudayaan yang harus mendapatkan perhatian. Karena, akan menunjukan peradaban manusia pada jaman sekarang. Keindahan, Kebersihan, dan Keamanan (K-3) adalah respon manusia sekarang atas kehidupan lingkungan yang indah.
“Saya berusaha mentrasformasikan pemikiran ini menjadi proses lingkungan hidup yang baik. Salah satunya membuat program unggulan, yaitu Kuningan Geulis. Artinya Gerakan Untuk Lingkungan Indah dan Sehat (Geulis,red),” pungkasnya.(NR)