• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Thu27082026

Last updateWIB3_MonAMWIBE_August+0700RAugAMWIB_0AMthWIB1787538147+07:00MonAMWIBE

Aneka

Takkan Tersapu Meski Penuh Debu

Foto ilusttrasi

Takkan Tersapu Meski Penuh Debu

Penulis : Fitri (siswi SMKN 1 Kuningan)

 

Direngkuh ibu bertubuh kurus kering itu dipembaringan Rumah Sakit, rasanya tak ingin melepasnya lagi walau hanya satu detik, sesekali Azram mengusap kening ibu winarti yang telah keriput seperti pelepah pisang yang kering, tanpa Azram sadari air matanya berbaris di pipi, haru menerjang hati yang sedang pelik, disandarkan kepala azram pada tiang rumah sakit, tatapannya menembus langit yang pekat hitam, bayangan-bayangan masa lampau pun mengahapiri azram yang tengah gundah, azram termenung melihat bayangan dirinya ketika kcil, seketika azram sadar itu hanya halusinasi belaka, digelengkan kepalanya untuk membuyarkan bayangan itu, dihampirinya lagi ibu winarti yang telah berusia senja itu, berharap kunjung sadar dari koma, ia mendesah kecewa karna kenyataan tak sesuai harapan.

Ia melihat ke arah kiri, kakak pertamanya Aris tengah menangis tersendu sendu, dilihatnya lagi ke arah kanan adik perempuannya terkulai tak berdaya, matanya sembab, sungguh pemandangan yang melemahkan hati, semakin gundah dan gelisah, gemuruh khawatir selalu menguntainya rasa takut akan ibu tak terselamatkan selalu menghantuinya, namun ia coba tegarkan hati, kembali mengumpulkan kekuatan hati yang diterpa haru. Malam semakin larut, awan hitam semakin pekat, dingin mulai menyelimuti bumi, gelisah semakin memuncak, hati Azram semakin tak menentu batinnya perang, nampak jelas wajah tampan Azram menjadi lusuh seperti kain lapuk, baju kemeja yang dikenakannya acak-acakkan tak karuan.

Ruangan itu semakin malam semakin hening, tak ada percakapan diantara mereka bi imas yaamg membawakan makanan dari rumah tak sedikitpun disentuh, jangankan disentuh dilihatnya pun tidak.

“zam kau sudah makan”.

”azam tidak lapar” .

“tidakkah kau kasihan pada perutmu, ibu sedih bapak mu bekerja mencari uang untuk makan kamu setelah ada makanan kamu tidak memakannya”.

Azram tersentak melihat bayangan itu, nampak sangat jelas bayangan dirinya dan ibu ketika masa lampau dimana Azram masih menjadi anak pebangkang, tubuh azram terkulai dilantai sedih menyergap, haru mengundang air mata, awan yang mendung kini hujan deras tanpa suara.

“zam mau kemana”

“kemana saja yang penting azam bisa bebas”

Tangan ibu menariknya kedalam rumah, dikibaskanya tangan ibu, azam mendelik tajam.

“bebas seperti apa yang kamu inginkan ?”.

Terdengar jelas ibu menarik nafas, menghembuskannya penuh lelah.

“Azam merasa tertekan dirumah, azam ingin seperti teman teman azam pada umumnya mereka boleh main boleh ini boleh itu....”

“boleh apa lagi ? boleh bertingkah semaumu, boleh tidak mengaji, boleh tidak sholat, lalu setelah itu boleh merokok, boleh mabuk-mabukkan, ibu tidak perduli teman teman mu seperti apa, jangan bandingkan ibu dengan orang tua mereka, kamu anak ibu maka ikuti apa yang ibu perintah, kalau tidak suka ya sudah jangan tinggal sama ibu” ujar ibu dengan nada kesal.

Azram lari...

“azam...” teriak ibu.

Azram sedikitpun tidak menghiraukan, yang ada di fikirannya hanya main, bergaul, ingin mencoba sesuatu yang asing dilihat dan didengarnya, yah... kala itu azram berusia remaja duduk di bangku kelas VIII SMP, ternyata diam-diam azram kala itu sudah mencoba-coba menghisap rokok, pergaulan di luar rumah mengalahkan pendidikan yang diterapkan oleh ke dua oarang tuanya, Ayah azram Ruslan memang jarang dirumah pekerjaan menuntutnya untuk jauh dari keluarga hingga peristiwa ini tidak ia ketahui, Ruslan hanya mempercayai winarti dalam mendidik anak, sesekali jika ia pualng disanalah ia memiliki waktu untuk bercengkrama, makumlah tidak seperti zaman sekarang selalu mudah dan instan untuk berkomunikasi jangankan internet, media sosial dan yang lainya, sms dan telepon saja masih asing di dengarnya, hanya surat yang berlaku pada masa itu.

Selepas kejadian itu benar saja azram tak lagi pulang,sudah lima hari keberadaanya entah dimana, winarti mencari kesana kemari namun azram seperti ditelan oleh belahan bumi, keberadaanya sulit ditemukan, lelah winarti berjalan menyusuri hiruk pikuknya jakarta mencari azram disandarkan tubuh kurusnya pada dinding putih dengan penuh harap dinding ini mamapu menopang keletihannya.

“zam maafkan ibu, kemarin ibu tidak bermaksud mengusir kamu nak,” bujuk Winarti mengejar Azram yang masuk ke kamar.

Azram tak menjawab !.

“kemarin kamu tidur dimana nak ?”.

Tak kunjung dijawab.

 “kemarin ibu mencari kamu kesana kemari, tapi ibu tidak menemukan kamu, ibu bertanya pada teman sekolahmu mereka juga jawab tidak tahu, ibu mencari ke sekolah kamu, kamu tidak sekolah, sebenarnya kamu dimana kemarin ? kenapa kamu tidak sekolah, kalau ayah kamu tahu dia akan marah....”Azram tidak memberikan jawaban apa-apa, “

“azram jawab ibu !!”

“kamu makan dengan apa kemarin ?”.

“ibu itu crewet, mau tidur dimana kek, makan dengan apa kek, itu urusan azram,” jawab azram dengan nada tinggi, wajah yang memerah padang.

Winarti tersentak mendengar azram berkata seperti itu !!

“ibu hanya khawatir” jawab Winarti dengan suara serak menyekat air mata.

Azram tersadar kembali dari bayangan lampaunya, degg... rasa bersalahnya kian menggunung, berlipat-lipat, waktu menununjukan lewat tengah malam, hanya Azram sendiri disudut ruangan putih nan dingin, benaknya ingin menjerit melengking memecah heningnya malam untuk mengeluarkan isi hati yang tak dapat tercurah dengan kata-kata. Didekatinya ibu yang masih terpejam yang entah kapan akan tersadar dari koma ataukah tuhan akan memberi titik setelah koma, hatinya semakin nyeri.

“adik macam apa kau ini ?”.

“kakak macam kamu ini, ira menyesal punya kakak seperti kak azam”.

“dengar azram ayah kecewa”

Ucapan-ucapan dikala waktu lampau selalu mengiang-ngiang di telinga azram, sekalipun azram menutup telinga terus terdengar.

Setelah malam berganti pagi azram memutuskan untuk pulang ke rumah sekedar berganti pakaian, lalu secepatnya akan kembali lagi ke rumah sakit, namun apa yang ia lihat tepat di depan pintu rumah, bayangan itu muncul kembali dimana waktu Azram mengincak usia dewasa ia tertengkap polisi karena terbukti ia mengonsumsi narkoba.

“sedikitpun ayah tidak berfikiran bahwa kamu akan menjadi anak yang mengotori nama keluarga”.

“maafkan azam yah, azam tahu ayah marah, ayah kecewa”.

“jelas ayah sangat kecewa kepada-mu pergilah terima konsekuensi mu”. Ujar ayah sambil membalikan badan.

Sebulan sudah kala iu Azram di sel penjara, air mata ibu kembali mencair, melihat anak yang dulu sangat ia banggakan kini setelah dewasa hidupnya suram, gelap jauh dari terang cahaya.

“saudara Azram ada yang ingin bertemu dengan kamu”.

Azram berjalan menunduk menghampiri perempuan muda nan cantik yang tengah membesuknya di penjara.

“kak Azam bagaimana kabar kakak ? kakak enggak usah nunduk seperti itu sinih kak duduk”.

Azram tidak menjawab !

“ira datang kesini disuruh ibu, ibu memasak makanan kesukaan kakak ira harap kakak mau memakannya” ujar Zahra (ira) tersenum pilu.

“bagaimana kabar kamu dan keluarga ?” tanya azram terbata-bata.

“kabar ira buruk (tersenyum tipis) kabar keluarga juga buruk, ibu sekarang lagi sakit kak, ayah sekarang sudah pergi tadi malam hari ke-7 nya, kalau keluarga sedang menjadi bahan perbincangan tetengga”.

Azram tertunduk entah sedih entah malu...

“ayah pergi ? pergi kemana ? ibu sakit dari kapan”.

“ayah pergi menyusul abah dan nini, ibu sakit semenjak ayah pergi”.

“ayah... ibu”pecah air mata azram.

“sudahlah kak, ira dan keluarga ikhlas” suara ira serak menahan air mata.

“ayah meninggalnya kenapa ?”.

“ayah sakit kak, mungkin ayah sakit karna fikiran”.

“itu semua gara-gara kakak yah ?”.

“entahlah kak, mungkin takdir”.

“kakak menyesal, sampaikan kata maaf kakak kepada keluarga”.

Zahra hanya mengangguk, disodorkan rendang kesukaannya azram, tanpa sepatah dua patah kata azram langsung menerima dan memakannya.

“rendangnya sangat enak, kakak sudah lama tidak makan masakan ibu”.

Zahra mengusapair mata azram. “lanjutkan saja dulu makannya kak”.

“kamu tidak ingin memakannya ?”.

“tidak ira sudah makan dirumah, kak jam besuk sudah habis, ira pamit pulang, kakak jaga diri baik-baik disini, maafkan irayang pernah berkata menyesal punya kakak seperti kak azam, mmmm... cepat keluar yah kak, dan jangan berbuat seperti itu lagi, assalamualaikum ”.

Azram mengangguk “walaikumsallam”...

Bulan bulan berikutnya ibu yang membesuk, dibalik jeruji besi azram melihat wanita senja yang masih kuat bersabar untuk anaknya, dibalik jeruji besi azram melihat wanita yang melawan malu, di balik jeruji besi pula azram menahan kerinduan, 3 tahun kemudian azram terlepasdari sanksi pidana, jauh sebelum ia keluar azam telah menancapkan niat taubatnya, dan juga ia sangata menyesali apa yang telah ia perbuat, suasana keluarga pun kembali hangat.

Bersambung....

Add comment


Security code
Refresh


Fishing