Aneka
Nyimas Gandasari (Bag 1)
- Details
- Published on Monday, 26 October 2015 08:51
- Written by Abun Burhanudin
- Hits: 43325
Nyimas Gandasari
(Asal Mula Nama Kedungarum)
Oleh : Abun Burhanudin
Nyimas Gandasari adalah anak perempuan Ki Buyut Sinden. Mereka tinggal di sebuah hutan di salah satu wilayah Kerajaan Kiuningan. Ki Buyut Sinden sendiri adalah salah seorang Murid dari Syeh Nurjati yang ditugaskan untuk melakukan penyebaran Islam di Kerajaan Kuningan. Nyimas Gandasari terkenal memiliki paras yang sangat cantik. Kecantikan putri ki Buyut Sinden itu terdengar sampai ke pelosok pelosok di Kerajaan Kuningan.
Banyak lelaki yang tertarik untuk memperistri Nyimas Gandasari, mulai darai kalangan bangsawan kerajaan, para saudagar, bahkan sampai pada para pendekar silat. Namun entah kenapa, meskipun sudah banyak yang datang untuk meminangnya Nyimas Gandasari selalu menolaknya.
Melihat sikap putri satu-satunya yang belum juga berniat menikah itu, tentunya Ki Buyut Sinden menjadi khawatir. Sampai kapan nyimas mau hidup melajang seperti ini?, Ayah sudah tua pengen sekali melihat kamu berumah tangga dan punya anak. Pertanyaan itu sudah seringkali dilontarkan oleh Ki Buyut Sinden, tetapi Nyimas Gandasari selalu menjawab kalau ia belum ingin berumah tangga, dan nanti kalau sudah waktunya ia pun pasti menikah.
Suatu hari, Ki Buyut Sinden dipanggil oleh Syeh Nurjati untuk melakukan tugas yang yang sangat penting. Ki Buyut Sinden pamit kepada Nyimas Gandasari dan mengatakan kalau ia akan pergi agak lama. Ayah akan pergi agak lama. Jagalah si Mulus baik-baik. Kuda itu sangat berharga bagi ayah, sebab itulah satu-satunya pemberian dari Syeh Nurjati.
Baiklah, ayah. Aku akan menjaga kuda itu baik-baik seperti aku menjaga diri sendiri. Berhati-hatilah di jalan ayah. Ya, kalau begitu ayah pergi sekerang. Kamu juga berhati-hatilah di sini! Ki Buyut Sinden kemudian pergi, sementara Nyimas Gandasari tinggal sendirian di gubuknya ditemani oleh seekor kuda pemberian dari Syeh Nurjati.
Begitulah, sejak ditinggalkan oleh Ki Buyut Sinden, setiap harinya Nyimas Gandasari mengurus kuda. Ternyata Kuda itu bukanlah kuda biasa. Binatang itu seolah mengerti pikiran manusia, setiap pagi ia dilepaskan oleh Nyimas Gandasari, sorenya kalau pulang, kuda itu selalu membawa makanan, buah-buahan atau apapun untuk nyimas Gandasari. Nyimas Gandasari tentunya merasa senang dan ia pun tidak harus susah-susah untuk mencari makanan. Kamu memang kuda yang baik, Mulus. Aku tidak harus repot-repot mengurusmu. Pantesan ayahku sangat sayang padamu.
Kuda itu seperti mengerti apa yang dikatakan oleh Nyimas Gandasari, binatang itu terlihat manggut-manggut dan setelah itu pergi ke kandangnya. Suatu hari, Nyimas Gandasari nampak begitu cemas. Sudah lewat waktu isa, si Mulus, kuda kesayangannya itu belum pulang juga. Nyimas Gandasari sangat panik. Ia mencari kuda itu ke sana ke mari, namun kuda itu tidak juga ditemukan.
Aduh..kalau sampai kuda itu hilang, ayah bisa marah besar kepadaku.. Bagaimana ini..?! Nyimas Gandasari bener-bener bingung, dan putus asa. Ia tak tahu, harus kemana lagi mencari kuda itu. Saat sedang bingung-bingungnya, tiba-tiba munculah dua orang lelaki yang tidak dikenal menyeret si Mulus ke hadapan Nyimas gandasari.
Nyimas Gandasari kaget, karena melihat si Mulus terluka di kakinya. Tanpa bertanya dulu kepada dua lelaki itu, Nyimas Gandasari langsung marah...Bersambung




