Aneka
Gadis Kecil Itu Ternyata Roh Halus (Bag 1)
- Details
- Published on Sunday, 01 November 2015 12:10
- Written by Abun Burhanudin
- Hits: 25627
Gadis Kecil Itu Ternyata Roh Halus (Bag 1)
Cerbung
Oleh Abun Burhanudin
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Liburan sekolah tahun ini, Riza, Apdil, Sinta, dan Soni, berlibur ke sebuah kampung di Kuningan. Kita sebut saja kampung Cihanjuang. Di sana keluarga Riza punya rumah besar yang biasa dipakai berlibur setiap tahunnya. Di rumah itu ada dua air terjun. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan curug kembar. Kedatangan Riza dan tema-temannya langsung disambut oleh Bah Samaun dan Bi Puri, kedua pembantu setia pak Kadil, ayah Riza.
Saat sampai ke sana, Riza, Apdil dan Sinta langsung masuk ke rumah. Sedangkan Soni masih diam termenung di luar. Bi Puri heran, lalu menghampiri Soni dan bertanya. “Kenapa malah bengong, den..? Ayo masuk..! Bibi sudah nyiapin makan.. Aden pasti capek.. Ayo makan dulu.” Kata Bi Puri. “Nanti dulu, bi.. Tadi sebelum ke sini, aku jalan-jalan dulu di sekitar Curug. Aku merasakan ada hal yang aneh.” Jawab Soni. Bi Puri bertanya, “ Apanya yang aneh, Den?” Soni lalu bercerita, pas datang ke sini, dia dan yang lainnya tidak langsung ke rumah, karena Riza mengajak jalan-jalan dulu ke Curug.
Tapi saat mau pulang, di dekat air terjun, tiba-tiba dirinya mendengar ada anak kecil yang menangis. Anehnya, teman-teman yang lain tak seorangpun yang mendengarnya. Soni sempat penasaran mau melihat. Tapi Riza, Apdil dan Sinta keburu jauh. Sonipun akhirnya tidak jadi dan mengejar mereka.
“Sampai sekarang suara anak menangis itu masih terngiang-ngiang, bi. Masa sore-sore begini masih ada anak kecil di sana. Jangan-jangan ditinggalin oleh orang tuanya. Kasihan sekali ya bi?” Mendengar cerita Itu, Bi Puri tampak pucat. Jantungnya terasa berdebar. Soni heran melihatnya. “Kenapa, Bi..? Kok sepertinya kaget?” Bi Puri tersentak. Dia mencoba menyembunyikan perasaanya.
Bi Puri cari-cari alasan tak mau membahas lagi soal itu. Dia kembali menyuruh Soni masuk. Akhirnya Sonipun masuk. Sementara itu, Riza, Apdil, dan Sinta, sudah bersiap-siap untuk makan. Soni muncul, tapi dia tidak ikut duduk bersama mereka. Riza merasa aneh. Lalu mengajak Soni segera makan.
Apdil bilang agar Riza tidak peduli soal Soni. Memang dia sifatnya seperti itu. Soni menemui Bah Samaun, menanyakan di mana kamar mereka. Samaun menunjukannya. Soni segera masuk ke kamar itu. Ternyata jendela kamar itu menghadap ke Curug. Perasaan Soni terdorong untuk melihat keadaan di luar lewat jendela.
Meskipun agak samar, tapi keadaan di air terjun bisa terlihat dengan jelas. Tampak olehnya, seorang gadis kecil berkaki pincang sedang duduk sendirian. Soni merasa iba. Dia lalu keluar lagi. Riza dan yang lainnya masih pada makan. Soni berjalan terburu. Riza makin heran dengan sikap Soni. Tapi lagi-lagi Apdil bilang agar Riza tidak mempedulikan Soni. Merekapun akhirnya tak peduli.
Usai makan Riza dan yang lainnya lalu bermain PS atau permainan lainnya yang sudah tersedia. Saking asiknya bermain game, tak terasa waktu sudah menunjukan jam 11 malam. Soni belum juga pulang. Riza dan teman-temannya mulai kuatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama Soni, atau dia tersesat. Anak-anak itupun lalu pergi mencari Soni.
Kebetulan sekali saat itu bulan purnama. Keadaan di luar tampak terang. Mereka tak perlu membawa lampu senter. Riza, Apdil, dan Sinta menyusuri semua pelosok Curug mencari-cari Soni. Tapi tidak menemukannya juga. Riza dan yang lainnya makin cemas. Waktu sudah menunjukan jam 12 malam.
Tapi belum ada tanda-tanda dimana Soni berada. Riza dan yang lainnya mulai putus asa. Tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing di kejauhan. Suaranya melengking menimbulkan aroma seram. Riza dan yang lainnya merasa merinding, terutama Sinta. Dia segara ngajak pulang. Riza bingung, karena Soni belum juga ditemukan....Bersambung




