• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Thu27082026

Last updateWIB3_MonAMWIBE_August+0700RAugAMWIB_0AMthWIB1787538147+07:00MonAMWIBE

Aneka

Ketum Gerakan Hejo Pimpin Demo

Ketum Gerakan Hejo, Eka Santosa saat memimpin Demo di Arcamanik.

Kuningann Terkini, Bandung - Ada yang tak lazim, Ketua Umum Gerakan Hejo, Eka Santosa turun gunung. Mantan Ketua DPRD Jabar (1999–2004) dan Ketua Komisi ll DPR RI (2004 – 2009) ini memimpin unjuk rasa terkait buruknya kondisi lingkungan di Arcamanik Bandung, Senin kemarin (16/5/2016).

Selain puluhan Satpol PP dan polisi dari Polsek Arcamanik Kota Bandung yang hadir, juga Firman Nugraha, Camat Arcamanik, serta Kompol Asep, Kapolsekta setempat. Tuntutan unjuk rasa, sepintas walaupun tampak sederhana. Faktanya, berdimensi luas meliputi kondusifitas lingkungan di kota Bandung.

“Ini bukan unjuk rasa biasa, tak ada anarkhis-nya di sini. Sebut saja, ini silaturahmi hanya caranya berbeda. Lihat, di belakang saya hanya ibu-ibu dan pensiunan, termasuk anak-anak. Saya tak takut dalam membela kebenaran. Justru, paling takut sama isteri saya. Tiap hari terus mengomel ke saya, soal sampah”, seru Eka ketika memimpin unjuk rasa di RT 06 RW 02 Kelurahan Cisaranten Endah Kecamatan Arcamanik Bandung.

Kontan puluhan orang yang menyimak ujaran serius Eka, sedikit menahan tawa. Terutama kala menyinggung isterinya, Rinaningsih yang juga ikut berunjuk rasa. Istrinya kerap cerewet menyoal bau menyengat sampah bertahun-tahun, garadag-gurudug dump truck hingga dini hari. Lalu-lalang roda sampah, dan lalu-lalang pemulung sampah di pemukiman Arcamanik.

“Soal pemulung ini, selalu kita punya toleransi, namun kalau mereka menetap di bantaran kali Cironggeng selama bertahun-tahun. Ini sudah menjadi persoalan sosial yang rumit,” terang Eka.

Merunut Ketua RT 06 RW 02 Kelurahan Cisaranten Endah Kecamatan Arcamanik Kota Bandung, Dewa, aksi ini sebagai luapan kekesalan warga yang bertahun-tahun menerpa mereka tanpa tahu harus berbuat apa. Para pembuat keputusan di tingkat RW, Lurah, Camat, hingga Kepala Dinas, dan Walikota, sudah diberitahu, namun hasinya mentok. Malah saling lempar tanggung jawab!

“Sejak 1980, tadinya ada toleransi dengan keberadaan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPPS). Ada bengkel besi, ya toleransi. Kemudian ada bedeng pemulung sampah di bantaran kali Cironggeng, juga sedikit toleransi. Tiba-tiba ada penebangan pohon bambu di bantaran kali oleh pendatang Heru Pamuji,” jelasnya.

Terakhir terang Dewa, Green Caraka Residence menutup saluran air. Kebanjiran sejak lama. Kena bau sampah sama bising bengkel. “Pihak terkait, tak peduli. Sudah lapor sana-sini dibiarkan saja,” terang Dewa diamini sejumlah ibu-ibu yang mayoritas penghuni Jl. Ice Skating, Jl. Terbang Layang, dan Jl. Aeromodeling di Kelurahan Cisaranten Endah.

Gerutu peserta unjuk rasa ibu-ibu ini direspon Camat Arcamanik, Firman. Sayangnya, respon Camat Arcamanik yang baru dua minggu menjabat di daerah ini sedikit dicibir. “Koq baru mau mencari solusi,” kata salah seorang Ibu yang ikut unjuk rasa.(Hari Safiarri)

Add comment


Security code
Refresh


Fishing