Aneka
Sarah Tsunami, Melawan Kebutaan (Bag 2)
- Details
- Published on Monday, 29 September 2014 08:05
- Written by Harri Safiari
- Hits: 28743
Kuningan Terkini - Berhari-hari perihal penglihatan Sarah yang kembali mengeluh sehubungan kacamata pertamanya yang seharusnya diganti sejak Juni 2014 menjadi bahan keprihatinan anggota di lingkungan LSM CADAS. “Bawa atuh ke (RS Mata - red) Cicendo lagi. Tapi siapa ya, yang bisa bawanya dari Pangandaran. Kita belum punya jaringan kuat disana ...?!”, ungkap Dikdik yang diamini Mang Cadox yang sudah paham siapa Sarah.
Diantara kebuntuan ini, timbullah solusi. Beberapa hari kemudian Juju oleh pengurus LSM CADAS disarankan menghubungi Plt Bupati Pangandaran, Endjang Naffandy.”Kami ini orang kecil, masa bisa ke rumah Pak Bupati segala. Tapi demi Sarah, akan dicoba”, kata Nurhadi menirukan suara Juju mereaksi sarannya.
Singkat kisah, setelah beberapa kali Juju bolak-balik ke rumah Plt Bupati Pangandaran tentu dengan “modal nekad” segala, akhirnya ia diterima oleh istrinya Hj.Rd. Neneng Naffandy, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pangandaran. “Pak, kami akan ke Bandung diantar mobil dari Pak Bupati.
Tunggu besok pagi kami di Bandung ya”, jelas Nurhadi kembali menirukan suara Juju yang diutarakan melalui telepon genggam jadoelnya di Pangandaran. Tunggu punya tunggu, kehadiran Sarah dan keluarganya di Bandung ternyata tak semulus yang dikira.
Setelah tertunda beberapa kali, ahirnya Sarah tiba di Sekertariat LSM CADAS Bandung (2/9/2014). Belakangan diketahui melalui Ee Rahto, pengantarnya yang ditugaskan Plt Bupati Pangandaran:”Perjalanan ke Bandung banyak tertunda. Tadinya, malah mau diantar pake ambulans. Dipikir-pikir, kondisi Sarah sendiri tak begitu mengkhawatirkan.
Diundurlah, sampai dapat pinjaman sedan ini”, jelas Ee yang ternyata adalah guru kelas enam di SDN 2 Bojong tempat Sarah bersekolah. “Saya ditugaskan oleh Ibu Bupati, utamanya. Tahu persislah, Sarah ini di sekolah termasuk anak yang tekun dan rajin belajar. Sayang, penglihatannya terkendala. Kami semua prihatin”.
Sarah Tsunami, Siapa?
Sepintas inilah kisahnya, delapan tahun lalu ia adalah orok yang saat itu usianya masih kurang dari 24 jam, satu-satunya yang selamat dari terjangan tsunami (17/07/2006) di pantai Pangandaran, Jabar Selatan. Sore itu, Juju sedang mendekap orok merahnya di rumah ‘gubug’-nya dekat tepi pantai, tiba-tiba berselang beberapa detik setelah gempa kuat melanda sekitar pukul 16.00 WIB, mereka diterjang tsunami dahsyat.
Tempat tinggalnya sekejap sirna, luluh lantak bersama ratusan penghuni di sekitar pantai ini. Sedikitnya 500 orang tewas dan ribuan rumah di sepanjang ratusan km pantai Jabar Selatan porak poranda.
“Kami terpisah, isteri saya entah dimana, orok Sarah entah kemana. Baru esoknya, kami bisa bertemu dengan isteri. Sedangkan Sarah, ditemukan orang beberapa jam kemudian diantara tumpukan sampah bercampur lumpur dan pasir pantai. Beberapa hari kemudian bayi yang tali pusarnya masih belum lepas sedang di kerubungi orang di tenda darurat”, kata Utan merunut kisah putrinya yang terkenal sebagai bayi ajaib.
Nama Sarah sendiri kata Utan, sebenarnya pemberian dari tokoh Jawa Barat, Eka Santosa anggota DPR RI (2004 – 2009). “Pak Eka sudah ada di Pangandaran dari Jakarta beberapa jam setelah kejadian tsunami. Ia pula yang sempat membawa Sarah dan ibunya dirawat di Cicendo waktu dulu itu”, tutur Utan.
”Benar, Sarah itu dalam bahasa setempat berarti sampah, utamanya daun di pinggir pantai atau hutan. Disambunglah namanya dengan peristiwa tsunami tahun 2006, jadilah Sarah Tsunami. Saya temukan bayi ajaib ini sedang diperbincangkan orang di tenda darurat beberapa hari setelah peristiwa.
Segera dibawa ke RSUD Banjar. Selanjutnya bersama ibunya dirawat di RS Mata Cicendo Bandung”, jelas Eka per telepon (14/9/2014) yang kala itu sedang berada di Jakarta. Bila berkenan dari peristiwa pilu ini, masih ada yang lebih beruntung dari pasangan Utan dan Juju, yakni Supriatin. Supriatin kini telah dewasa, saat kejadian ia sedang berkunjung ke rumah neneknya. “Rumah neneknya memang cukup jauh dari pantai. Ia selamat”, kata Juju dan Utan....Bersambung (Harri Safiari)






