Aneka
Hingga Sekarang, Bumi Pertiwi Masih Dijajah
- Details
- Published on Monday, 27 October 2014 18:54
- Written by Ade
- Hits: 29786
Bumi manusia di dalam skenarionya, telah menjadikan manusia sebagai tokoh utamanya. Pramoediya, dalam tulisannya menceritakan banyak hal yang terjadi di bumi manusia ini. Perkara pendidikan, ekonomi, sastra, politik, sampai perbudakan, penindasan, dan lain sebagainya. Alangkah banyaknya perkara yang telah terjadi di bumi manusia ini. Tahun 1899 silau, di atas bumi manusia yang kita pijak.
Masih terasa penindasan dan penjajahan. Pembodohan dan perasampasan hak milik, bukanlah hal asing untuk nenek moyang kita. Minimnya pendidikan, kesehatan, jaminan hukum, yang dirasakan pribumi saat itu. Ketidakadilan sudah menjadi keseharian, apalagi untuk kaum buruh, petani, dan rakyat kecil lainnya. Lebih dari tiga ratus tahun lamanya, penjajahan itu dialami, bahkan lebih dengan penjajah sebelum dan sesudahnya Belanda.
Pada zaman penjajahan, perlawanan dari berbagai kalangan terus dilakukan, meskipun minim hasilnya. Namun, kala itu, segala sesuatu yang dilakukan pribumi merupakan tindak perlawanan. Artikel di Koran-koran, karya sastra, coretan-coretan di tembok: Indonesia Yes, Penjajah No, merupakan bentuk perlawanan dari bangsa ini.
Hari ini, 69 tahun lamanya, bumi kita telah merdeka dari penjajahan. Tak melihat lagi peperangan di pelataran rumah, suara senapan tak terdengar sedikitpun untuk kali ini. Pendidikan, sarana kesehatan, bantuan-bantuan ekonomi dan sebagainya cukup terasa lebih baik dari masa penjajahan. Pengalaman yang baik untuk generasi muda sekarang, menikmati kebebasan tiadakiranya.
Kemerdekaan selama 69 tahun, masih terasa dini bagi bangsa kita untuk mengurus dan menangani segala sesuatunya tanpa bantuan asing, Namun sekiranya tidak secara bebas pula asing bisa menguasai sepenuhnya terhadap yang bumi kita miliki. Sumber daya alam salah satunya. Banyak pertambangan asing memasuki kawasan negri ini. Tidak tahu awalnya, pribumi hanya mengetahui sudah adanya pertambangan-pertambangan itu. Meningkatkan kesejahtraan pribumi jadi alasan utama pertambang-pertambangan asing itu ada di kawasan negri ini.
Meskipun sudah lama, hasil izin pertambangan itu masih belum dirasakan secara meluas ke seluruh pelosok. Apa bisa tersendat, atau jarak yang tidak memungkinkan untuk diberi bantuan? Apa hasil pembagiannya tidak cukup untuk mensejahtrakan pribumi? Saat ini Pribumi mulai garang, dengan adanya pertambangan-pertambangan asing yang mulai merajalela. Hanya mendapatkan rugi dari hasilnya, bukan untung bagi kesejahtraan pribumi.
Alam yang sudah digandrungi pertambangan, hanya tinggal bencana yang akan menimpa. Kejadian di bumi manusia kita saat ini, sama percis dengan kejadian di zaman nenek moyang terdahulu. Perampasan hak milik, meskipun pada zaman kali ini tidak nampak peperangan di pelataran rumah. Perampasan hak milik pada zaman dulu dan sekarang mungkin nampaknya sedikit berbeda. Asing bisa mendapatkan hak pribumi melalui kekuasaan tanpa peperangan.
Pertambangan Freeport misalnya, yang ada di Indenesia timur. Pribumi sekitar, nampaknya masih belum bisa dikatakan sejahtera, pendidikan yang kurang baik, sarana kesehatan yang tak tahu adanya, dan perekonomian yang semraut. Jelas, terlihat kenyataan yang buruk tak terkira. Indonesia timur sebagian kecil dari korban pertambangan di bumi manusia ini. Apakah ini sebuah rencana kaum penjajah, untuk merampas hak milik pribumi kembali? Pribumi kita mungkin akan bisa menilai, apakah ini sebuah catatan buruk yang sama percis dengan zaman terdahulu, atau sebuah catatan baik untuk cerita anak cucu kita kelak?
Azi Nurhamzah Penulis adalah Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Kuningan






