Aneka
Eka Santosa, Jabar Juara Kerusakan Lingkungan
- Details
- Published on Friday, 31 January 2014 11:29
- Written by Admin
- Hits: 38481
Bandung (KaTer) - Tidak ada lagi yang bisa dipercaya di Jabar dalam hal pembangunan lingkungan hidup. Dimana-mana rusak. Hutan, sungai, harim laut, dan tata ruang kewilayahan, dari tahun ke tahun tak terkendali. Rakyat tak berdaya dan jadi korban. Hal ini terungkap saat Ketua Forum DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum, Eka Santosa melakukan jumpa pers dengan 45 pewarta elektronik dan cetak di RM Riung Sari, Bandung, Kamis (30/1/2014).
Sementara, menurut Dewan Pakar Kesehatan Masyarakat Forum DAS Citarum yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen kesehatan di UNPAD dan Maranatha Bandung, Thema Zebua, di Indonesia, Jabar ini termasuk juara kerusakan fisik atau alamnya. Terdapat 445.000 ha tanah yang rusak, 50 persennya kritis.
“Telah terjadi pembiaran kerusakan lingkungan hidup di negeri ini khususnya di Jabar selama puluhan tahun ini. Misalnya, negeri ini kehilangan 6,3 milyar USD (Rp. 56 triliun) per tahun akibat buruknya sanitasi dan kebersihan. Faktanya, 121.000 kasus diare setiap tahun terjadi, dengan akibat 50.000 orang meninggal.
“Mana mungkin kita bisa disebut negara modern, kalau penyakit diare yang sudah hilang di Eropa dan Amerika Serikat masih ada disini,” katanya menyindir.
Menyangkut fungsi sungai Citarum, diantaranya sebagai penyuplai 80 persen air baku DKI Jakarta, Thema tanpa tedeng aling-aling memaparkan berdasar riset Depkes (2008). ”Hampir 100 persen terkontaminasi bakteri colliform," tegasnya.
Hal yang sama dikatakan, perwakilan dari DPKTLS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), Taufan Suratno, dirinya merasa prihatin pada ketidakpedulian pembuat kebijakan keberadaan sungai Citarum, penambangan pasir besi di pantai selatan Jabar, dan nasib hutan bakau di pantai utara Jabar. Penggundulan hutan semakin menjadi-jadi. Proram penghijauan selama ini hanya kamuflase. Akibatnya, longsor dan banjir terjadi dimana-mana.
“Tata guna lahan, hanya bagus di atas kertas. Yang ada hanya program yang pro kapitalis, rakyat jadi tumbal,” ucapnya.
Terkait kebijakan Bupati di pesisir Jabar selatan kata Taufan, khusus pengelolaan lingkungan hidupnya hanya berjangka pendek, tidak kreatif. Pasir besi ditambang investor besar, tidak peduli nasib alam dan lingkungan setempat. “Padahal, keindahan alam disana bisa diolah tanpa merusak lingkungan. Misalnya melalui kepariwisataan yang ramah lingkungan,” tuturnya.
Ditempat yang sama, Advokat Forum DAS Citarum, Kustoyo Husein mengungkapkan, sudah waktunya tidak hanya sebatas berbicara, namun harus melakukan tindakan hukum secara nyata. “Langkah strategis dan mendesak sedang dilakukan oleh berbagai elemen dewasa ini. Tunggu tanggal mainnya, dalam waktu dekat,” ungkap Kustoyo diamini , Sekjen Forum DAS, Heru Gunawan.(HS)






