Profil
Ido, Bocah Indigo Mampu Narik Jin
- Details
- Published on Wednesday, 29 April 2015 18:56
- Written by redaksi
- Hits: 76070
Kuningan Terkini - Beberapa pekan ini di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, muncul anak Indigo Plus, yaitu anak yang memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Adalah Ridho Rahman Saputra (8), siswa kelas 2 SDN II Bayuning, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Jabar, selain bisa melihat mahluk Asral, Ido sapaan akrabnya, mampu menarik Jin.
Dengan kemampuan supranatural Ido, banyak jin yang dianggap mengganggu warga ditariknya dan kemudian dimasukan kedalam botol, salah satunya jin yang menghuni wc di sekolahnya. Kemudian, botol yang berisi jin itu dibawa ke majelis dzikir Cahaya Hati yang terletak di Desa Kertaungaran, dimana Ido dan bapaknya Arif Rahman biasa ikut dzikiran setiap malam rabu.
“Saya betul betul gak nyangka saat Jin itu dikeluarkan kembali dari botol oleh pak Uci pimpinan majelis dzikir, ternyata betul itu jin yang menghuni di WC sekolah. Jin itu mengaku namanya Ki Japara dan sudah menghuni lokasi tersebut ratusan tahun sewaktu lokasi tersebut masih hutan belantara,” kata Nono, guru olahraga di sekolah SDN II Bayuning yang turut menyaksikan pembuktian dengan cara mediumisasi melalui mediator khusus dari team majelis dzikir.
Nono semakin terheran heran saat mendengar keterangan dari Uci, bahwa Ido sering membawakan botol berisi Jin yang ditarik dari berbagai tempat. “Pernah ada 2 Jin yang ditarik dari gedung DPRD Kuningan, wujudnya yang satu Genderuwo dan yang satunya lagi Kuntilanak. Sedangkan satu jin yang ditarik dari orang yang kena santet itu berwujud ular segede pohon kelapa,” jelas Uci kepada Nono.
Kesaksian lain dituturkan Darlan (38) Kepala Dusun Pariuk, Desa Gandasoli, Kecamatan Jalaksana. Dirumahnya, Ido narik jin jenis Banaspati alias jin api yang menghuni di kamar mandi. Ia tahu persis karena bisa melihat mahluk Asral, hanya saja Ia tidak bisa menasrik jin seperti Ido.
“Saya benar benar terpana dan salut melihat kemampuan Ido yang masih kelas II SD itu. Ya kalau kita melihat santri, ustad ataupun para ulama lainnya punya kemampuan seperti Ido gak aneh, karena mereka bisa dan mampu disebabkan proses belajar di pesantren kan. Nah, kalau Ido kan ngajinya ajah baru iqro dua alias baru bisa baca alif batasa. Jadi aneh kan?” tutur Darlan.
Salah seorang sesepuh dari tim Majelis Dzikir Cahaya Hati, Ustad Momon pernah menguji Ido dengan disuruh menebak siapa dirinya saat ustad Momon berubah wujud seperti sosok orang tua berjanggut. Saat itu ustad Momon mengeluarkan pedang goib dari balik punggungnya. Dan Ido bisa menebaknya.
Tidak hanya itu, Ido juga pernah diuji oleh pimpinan majelis dengan menebak penampakan sosok maung hitam alias macan kumbang. Ia dites untuk melihat ada mahluk apa saja di rumah kosong di dekat lokasi bangunan majelis dzikir, dan semuanya bisa Ido tebak dengan persis. Menurut Ustad Momon, kemampuan Ido merupakan anugrah dari Allah SWT. Innama amruhuu idzaa arodha syaai’an yaaqullalahu kun fayakun.
“Intinya kalau Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi, dan siapapun tak ada yang bisa menghalang halangi,” terang Ustad Momon menjelaskan.
Sementara itu penuturan Arif Rahman (49) orang tua Ido, anaknya mulai bisa melihat mahluk Asral saat usia 5 tahun. Saat itu lepas magrib Ido sedang main di halaman rumah dan kemudian teriak teriak bahwa dia melihat Kuntilanak. Saat itu, Ia tidak menanggapinya, karena dalam benaknya Ido terpengaruh Film Horor di televisi.
“Ya, saya kira saat itulah mungkin pertama kalinya Ido mulai bisa melihat mahluk Asral. Kalau mulai narik jin, yaitu dari mata orang yang buta bertahun tahun dan diduga orang itu buta dikarenakan kena serangan santet. Hal itu dikarenakan jin yang ditarik Ido dan dimasukan ke dalam botol,” papar Arif, Rabu (29/5/2015).
Saat dimediumisasi di majelis dzikir kata Arif, ternyata Jin yang keluar berwujud ular sebesar pohon kelapa. Sekarang mata orang itu sudah bisa melihat sedikit sedikit walau masih remang remang. “Mungkin secara medis, matanya buta bertahun tahun, jadi mungkin urat syarafnya kaku,” jelas Arif Rahman, wartawan senior PWI yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Media Kuningan mengakhiri pembicaraan.(red)






