Fri17042026

Last updateWIB3_FriPMWIBE_April+0700RAprPMWIB_0PMthWIB1776402730+07:00FriPMWIBE

Profil

Sariban, Sang Kakek Pencabut Paku

Sariban, Sang Kakek Pencabut Paku. Photo : GUN PI

Kuningan Terkini, Purwakarta - Sebuah kejadian unik terjadi di Pendopo Kabupaten Purwakarta yang kini ditempati Bupati, Dedi Mulyadi, Minggu (10/4/2016). Pagi itu Dedi kedatangan tamu spesial dari Bandung, Sariban (72) yang populer dijuluki Kakek Pencabut Paku. Meski usianya sudah tidak muda lagi, pensiunan RS Mata Cicendo, Bandung ini, setiap harinya tetap eksis keliling Bandung bersepeda mencabut paku yang sudah tertancap di pohon.

“Lihat pohon dipaku, sakit rasanya badan saya. Pohon itu menjerit kesakitan,” begitu ucapnya tatkala Ia mencabut tancapan paku di banyak pohon.

Khusus aksi unik mencabut paku di pohon, Ia galakkan sejak tahun 2004 lalu. Katanya, kini sudah ada 17 karung lebih paku terkumpul di rumahnya. Beratnya lebih dari 1 ton ! Sehingga tidak heran banyak orang menjulukinya Kakek Pencabut Paku, Relawan Kebersihan Tanpa Pamrih, dan Kakek Iban – Indah Bersih Aman dan Nyaman !

“Sampai kapan pun tak akan saya jual. Takut dipake lagi, buat nancepin poster di pohon,” begitu alasannya.

Kembali ke suasana di Pendopo Kabupaten Purwakarta. Terjadi dialog inspiratif dan intensif di antara kedua tokoh ini. “Pak Sariban dengan sepedanya yang legendaris, selamat datang di Purwakarta. Nikmati dan sapalah warga kami,” terang Dedi Muyladi yang katanya sejak lama mengagumi sosok Sariban.

Perbincangan sambil duduk bersila, keduanya mengupas banyak hal, termasuk program go green di masing-masing kota, kepedulian warga terhadap kebersihan, dan beberapa rencana ke depan. Selanjutnya, Dedi Mulyadi bertanya ”Masih kuatkah bersepeda?”.

”Tentu, kan bensinnya nasi putih, tambah gorengan pula. Bersepeda, saya banyak istirahat. Stop di mana saja. Malah sering distop orang buat foto-foto. Ini, sama dengan istirahat?!”, sambil menyungging wajah sumringah dengan bonus - sebagian giginya yang sudah tanggal.

Berlanjut, keduanya makin akrab. Saling menumbuhkan rasa respek. “Terima kasih Pak Dedi, saya diterima baik di Purwakarta. Saya mau jalan-jalan dulu ke Situ Buleud. Kata orang, kini jauh lebih bagus. Sampai terkenal ke luar negeri segala ...”, ucap Sariban mengapresiasi, yang juga tampak tak sabar - ingin menjelajah kota Purwakarta.

Eits, tunggu dulu. Tanpa dinyana, di antara pertemuan dua sosok inspiratif ini, tiba-tiba hadir pelukis Hitam-Putih Suherman yang aktab disapa Pahe. Perbincangan semakin renyah dan mencair. Bagi Sariban, pelukis Pahe taklah asing – pernah kontak intens ketika digelar pameran tunggal pelukis Pahe di Galeri Qta di kota Bandung pada tahun 2004.

“Ini tokoh besar, panutan saya. Kala itu, salah satu dari 10 tokoh yang saya tonjolkan dalam pameran, ya Pak Sariban ini,” papar Pahe dengan gesture penuh respek.

Sorenya, diperoleh informasi Pahe berkat pertemuan ini, kembali akan membuat karya seni dari sosok Sariban.”Saya pikirkan serius, paku lebih dari satu ton milik Pak Sariban akan dijadikan karya seni monumental. Tujuannya, demi menggugah kita selalu cinta lingkungan. Bentuknya, nanti kita pikirkan. Segera, harus diwujudkan”, terang Pahe dengan roman bungah nan optimis.

Terpulang kepada Sariban, soal paku ini, bagaimana? “Setuju, daripada dijual dihitung per kilogram, jadi berapa? Kalau jadi karya seni yang menggugah, silahkan. Itu, lebih bagus”, jelas Sariban disela bercengkerama dengan warga Purwakarta di seputar Situ Buleud.

”Ternyata, taman-taman Pak Dedi Mulyadi, bagus dan indah ya? Warga, tadi terlihat gembira berada di taman ini. Ini contoh bagus untuk pemimpin di Jabar dan Nusantara,” tutupnya yang sore itu dengan sepedanya akan diberangkatkan kembali ke Bandung. (Harri Safiari)

Add comment


Security code
Refresh


Fishing